Ular Naga Ternyata Ada Di Sungai Mahakam

Ular raksasa Borneo hasil foto udara dan foto ponsel berkamera masing-masing di sungai pedalaman Serawak Malaysia dan pedalaman Mahakam (Kalimantan Timur)

Berita Terkait
Samarinda (ANTARA Kaltim) - Film apik besutan sutradara Luis Llosa  menggarap "Anaconda" melibatkan artis seksi Jennifer Lopez produksi 1990-an dan rilis 1997 sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan   jika menceritakan tentang adanya ular raksasa di Borneo.

Misalnya, pada Februari 2009, dunia dihebohkan dengan munculnya sebuah foto diinternet yang
diberitakan hasil foto udara memperlihatkan ular raksasa berenang meliuk-liuk pada sebuah
sungai besar di utara Kalimantan, tepatnya Sungai Baleh, Sibu, Serawak, Malaysia.

Ular raksasa berwarna hitam itu terlihat sangat besar karena  hampir memenuhi sungai yang membelah hamparan hutan rawa hijau dan rimbun itu. Konon, foto diambil dari sebuah helikopter pada 11 Februari 2009 dengan perkiraan panjangnya mencapai 100 kaki atau 33 meter.

Gambar tersebut diberitakan hasil kerja anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, . New Straits Times di Kuala
Lumpur juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris.

Kemudian, pada 29 Januari 2010 masyarakat Kutai Barat (Kubar), khususnya warga di pedalaman
Sungai Mahakam Ulu gempar melihat sepasang ular raksasa muncul meliuk-liuk berenang di
permukaan sungai Riam Haloq, Kampung Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai yang besarnya
diperkirakan 60 sentimeter dengan panjang sekitar hampir 50 meter.

Beberapa orang yang saat itu menjadi menumpang sebuah longboat bahkan sempat mengambil
gambar ular raksasa itu menggunakan ponsel berkamera.


Bagi warga pedalaman di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur mempercayai tentang adanya ular raksasa berkepala seperti lembu atau kerbau itu, di kawasan Serawak disebut Nabau atau
di pedalaman Mahakam dan wilayah Kutai Kartanegara disebut Ular Naga Lembu.

Sudah tentu bagi setiap orang yang melihat sesuatu yang ganjil akan memberikan penafsiran berbeda hanya berdasarkan pandangan mata saja, khususnya terkait ukuran dan panjang bisa jadi ukuran hanya 10 meter  bisa menjadi 20 meter.

Dari sisi ilmiah, maka film "Anaconda: The Hunt For The Blood Orchid" garapan Luis Llosa agaknya tidak tepat karena ular raksasa jenis anaconda habitatnya hanya di kawasan hutan  tropis basah Amerika Selatan, Amazone.

Sedangkan di wilayah hutan tropis basah Borneo, jenis ular yang bisa tumbuh besar itu adalah python atau dikenal sebagai ular sawah. Bedanya, anaconda lebih langsing dan ahli berenang sedangkan python lebih gemuk dan hanya suka kelembapan, bukan di air meski semua ular bisa berenang.

Anaconda yang merupakan family boa yang pernah ditemukan dengan panjang 50 kaki meskipun para ilmuwan yakin bisa mencapai 80 kaki sampai 100 kaki, hal itu berdasarkan  temuan kulit ular
tersebut oleh sebuah ekspedisi ilmuwan Inggris tahun 1992. Dari keluarga anaconda, jenis
terbesar terbesar adalah anaconda hijau (Eunectes murinus) yang bisa mencapai 43 meter.

Python Asia atau Asiatic Reticulated Python (Python reticulatus) di wilayah Borneo diperkirakan panjangnya bisa mencapai 33 kaki, bahkan mencapai 50 kaki atau 15.

Belum lama ini, para ilmuwan menemukan fosil ular raksasa, sepanjang 45 kaki berat 1,25 ton disebut "Titanoboa" sangat besar dan hidup dengan memakan buaya dan kura-kura raksasa pada kawasan tropis Amerika Selatan 60 tahun silam.


Mitos dan Lagenda

Dari sisi mitos dan legenda, maka kondisi geografis alam tempat sebuah komunitas bisa melahirkan berbagai cerita.

Wilayah Kalimantan memiliki banyak sungai-sungai raksasa dan sangat panjang, misalnya di
Kaltim terdapat sungai yang lebarnya ratusan meter, yakni Sungai Mahakam dengan panjang 920
Km melintasi tiga daerah Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota
Samarinda dan Sungai Kayan mencapai 640 Km di Kabupaten Bulungan.

Yang pasti, setiap perayaan pesta budaya Erau di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kaltim) yang bertepatan dengan HUT kota itu, yakni 29 September akan ada upacara ritual peluncuran Naga Erau di Sungai Mahakam.

Prosesi peluncuran Naga Erau yang terbuat dari kain, bambu serta kayu itu sebagai tanda akan ditutupnya pesta budaya yang sudah hidup selama ratusan tahun silam.

Ritual yang melibatkan tokoh masyarakat dan sultan Kutai itu melambangkan tanda syukur warga setempat yang selama ini telah mendapat limpahan rahmat dari Allah serta permohonan tolak bala agar negeri ini selalu tentram dan damai.

Ular Naga Erau tersebut tidak terlepas dari mitologi Kutai tentang sebuah bayi perempuan yang dikawal seekor naga dan dibawa binatang mistis, Lembuswana.

Lembuswana adalah binatang aneh karena badannya seperti kuda, memiliki mahkota, berbelalai.
bergading bersisik dan bersayap meskipun tergolong satu-satunya spesies paling langka di dunia namun sudah tentu tidak terdaftar dalam Appendix I Cites karena hanya hidup dalam mitologi Kutai yang sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu itu.

Lembuswana adalah Personifikasi dari kendaraan tunggangan Batara Guru. Lembuswana kemudian dijadikan  Lambang Kesultanan Kutai Kartanegara. Di Museum Mulawarman yang berlokasi di  Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara itu terdapat satu  koleksi patung Lembuswana yang terbuat dari kuningan. Lembuswana dibuat di Birma pada 1850 dan tiba di
Istana Kutai Kartanegara pada 1900.

Bayi yang dikawal Ular Naga Lembu dan dibawa oleh Lembuswana itu kemudian dikenal sebagai
Putri Junjung Buih itu kelak menjadi Putri Karang Meleyu yang menjadi pendamping hidup raja
Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti yang akhirnya melahirkan para
sultan di Kota Raja itu.

Jadi meskipun kini secara fisik Ular Naga Lembu itu mungkin tidak ada namun akan selalu hidup dalam jiwa dan semangat warga Kutai dalam membangun derahnya meskipun hanya hadir
dalam sebuah prosesi peluncuran Naga Erau di Sungai Mahakam setiap 29 September.

Editor: iskandar zulkarnaen
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar