Samarinda (ANTARA) - Dia bernama Nanang Nuryanto, usia belum setengah abad, baru 42 tahun. Berkat inovasinya dalam sistem pembelajaran, guru SDN 021 Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara ini mampu menyabet juara 1 dalam Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Dasar 2025 tingkat Provinsi Kalimantan Timur.
Banyak inovasi yang ia lakukan dalam proses belajar mengajar di sekolah hingga pendekatan kepada orang tua bagi murid yang memerlukan perhatian khusus.
Diantaranya adalah dengan pendekatan kreatif tematik dengan menghidupkan kembali permainan tradisional seperti gobak sodor, bermain karet, kelereng, dan lainnya sehingga murid menjadi bahagia dan dari permainan yang merupakan bagian dari pembelajaran sekolah tersebut.
Hal ini ia lakukan karena karena SD yang berlokasi di Desa Santan Ulu tersebut termasuk dalam kawasan pinggiran, bahkan sekitar 10 siswanya ada yang bermukim di seberang Sungai Santan Ulu, sedangkan sungai tersebut belum dibangun jembatan.
Satu-satunya cara agar generasi penerus bangsa ini dapat mengenyam pendidikan dasar di lokasi terdekat adalah dengan melintasi kotak gantung (warga setempat ada yang menyebut kotak gantung, kereta gantung, jembatan gantung).
Model sarana penyeberangan di atas Sungai Santan Ulu ini mirip kereta gantung, terbuat dari balok dan papan kayu yang dirangkai seperti gerobak tanpa roda. Di bagian atasnya dipasang dua besi (depan dan belakang).
Dua besi ini sebagai penopang yang dihubungkan pada dua dua tali yang sudah diikat ke masing-masing seberang sungai. Kemudian di tengah dua tali tersebut ada satu tali lagi, agar bisa digunakan penumpang sebagai tenaga untuk menarik gerobak sampai ke seberang sungai.
“Inilah perjuangan anak-anak kami di seberang sungai untuk bisa mengenyam pendidikan, jadi kami memberi toleransi pada mereka jika telat sampai sekolah, mengingat lokasi jauh dan ditempuh dengan jalan kaki, ditambah dengan kesulitan melintasi kereta gantung,” katanya.
Terlebih jika hujan, ditambah dengan jalanan tergenang air, kemudian sungai meluap, maka tingkat kesulitan mereka tentu makin tinggi.
Baca juga: Berkat BEHEBAT, Kepala SMPN Loa Kulu Juara Apresiasi GTK Kaltim

Nanang juga bercerita, pernah suatu saat air sungai meluap hingga dekat dengan ketinggian kotak gantung. Sementara di pinggir sungai tersebut terlihat buaya, sehingga anak-anak tersebut diminta libur sekolah karena kondisi ini membahayakan keselamatan mereka.
Atas kondisi ini, maka ia kerap mengunjungi rumah anak muridnya sekaligus berbincang dengan orang tua mereka. Ia menyadari bahwa di kondisi darurat seperti banjir atau hal lain yang sifatnya membahayakan, anak-anak memang tidak harus pergi ke sekolah.
Tapi jika kondisi normal, tentu menuntut ilmu di sekolah formal tetap ia dorong karena bisa menjadi bekal mereka di masa mendatang, sehingga komunikasi dengan orang tua siswa menjadi hal yang kerap dilakukan.
“Sebelumnya ada beberapa murid yang nyaris putus sekolah. Selain karena faktor jauh juga karena dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Namun berkat komunikasi terus menerus dengan orang tua, kemudian mereka masuk sekolah lagi,” katanya.
Memuliakan anak
Selain komunikasi dengan orang tua, guru di SDN 021 tersebut juga terus melakukan berbagai pendekatan khusus dan membuat permainan agar anak-anak betah di sekolah, terutama permainan tradisional yang dekat dengan anak-anak setempat, sementara permainan ini merupakan bagian dari literasi dan numerasi.
Ada juga anak yang mengalami sindrome akibat sebelumnya dikucilkan di lingkungannya, sehingga melalui pendekatan dan permainan kelompok dalam rangka memuliakan murid, kini anak tersebut merasa nyaman di sekolah dan bisa mengikuti pelajaran.
Program memuliakan murid, lanjut Nanang, merupakan program pintar dengan sistem identifikasi mana anak yang perlu bimbingan khusus. Tentunya hal ini dilakukan melalui observasi ke anak dilanjutkan dengan kunjungan dan berbincang dengan orang tua.
Selanjutnya adalah memberi soal untuk menguji kemampuan standar berupa menulis, membaca, dan berhitung. Jika hasilnya rendah, maka anak tersebut akan mendapat bimbingan khusus.
“Dari hasil observasi dan kunjungan orang tua, hasil rendah tersebut kebanyakan dari keluarga broken home, maka anak perlu mendapat bimbingan khusus,” katanya.
Baca juga: Menghidupkan permainan tradisional, meningkatkan numerasi anak

Model literasi-numerasi
Dalam melakukan literasi dan numerasi, pihaknya melakukan dua model asesmen awal, yaitu untuk kelas rendah 1, 2, dan 3 atau pada fase A dan C, dan kelas tinggi yaitu kelas 4, 5, dan 6 pada fase C.
Asesmen untuk kelas awal relatif lebih panjang karena dasar-dasar literasi dan numerasi harus diidentifikasi dengan teliti. Sementara untuk kelas tinggi di lakukan dengan memberi soal pilihan ganda kompleks literasi dan numerasi.
Asesmen awal dilakukan di awal tahun ajaran atau di awal semester. Hasil asesmen awal literasi kelas awal ditemukan 45 persen peserta didik masih mengeja kata, 10 persen peserta didik tidak bisa membaca, 5 persen peserta didik dapat membaca dan menjawab pertanyaan, dan 40 persen peserta didik dapat membaca kalimat namun masih lambat.
“Dari ilustrasi hasil asesmen tersebut kemudian kami merancang kegiatan pembiasaan yang harus diterapkan, ekstrakurikuler, dan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan peserta didik,” katanya.
Ia juga mengatakan, pada fase C atau kelas tinggi, asesmen dilakukan antara lain memberikan soal pilihan ganda kompleks dengan fokus pada perhitungan dasar pengurangan, perkalian, pembagian dan soal cerita.
Hasil asesmen awal literasi kelas tinggi ditemukan 45 persen peserta didik masih belum bisa perkalian dan pembagian, 10 persen peserta didik dapat menghitung pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan pembagian.
Lantas ada 5 persen peserta didik masih belum bisa pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan pembagian, 40 persen peserta didik belum bisa pembagian, pengurangan, dan perkalian.
“Dari ilustrasi hasil asesmen ini kemudian kami merancang kegiatan pembiasaan, ekstrakurikuler seperti les, dan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan peserta didik,” katanya.
Kemampuan Nanang dalam menerapkan literasi dan numerasi ini ia peroleh dari berbagai hasil diskusi dan bimbingan oleh banyak pihak, termasuk hasil pengalaman Nanang menjadi Fasilitator Tanoto Foundation yang fokus pada peningkatan sumber daya manusia agar menjadi insan unggul.
"Anak-anak yang belum maksimal akan mendapat pembelajaran khusus. Sedangkan mereka yang unggul diajak mengikuti beragam lomba, bahkan sampai tingkat nasional, seperti Lomba Quantum Education Competition Tingkat Nasional dalam Kejuaraan Olimpiade Nusantara," kata Nanang. (Adv)
Baca juga: Pemkab Kukar dan Yayasan Tanoto Foundation cetak generasi unggul sejak usia dini
