Hasil panen kemudian dijual. Bahkan para guru pun sering membeli hasil panen mereka. Uangnya kemudian masuk kas kelas untuk kebutuhan kelas mereka

Samarinda (ANTARA) - Program BEHEBAT yang diterapkan di SMPN 10 Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), membuat kepala sekolah tersebut meraih Juara 2 dalam Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Transformatif Tingkat Provinsi Kaltim.

BEHEBAT dalam bahasa Kutai berarti "Menjadi Hebat", sehingga BEHEBAT dijadikan program sekolah yang mengarah pada pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. BEHEBAT juga akronim dari "Bebaya Etam Hidup sehat, Energik, Beribadah, Aktif, dan Tumbuh cerdas".

"Program ini diterapkan untuk mengaplikasikan pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat setiap hari, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat," kata Kepala SMPN 10 Loa Kulu Isnaini Fidhiatil Ulla di Loa Kulu, Rabu.

Ia menerapkan ini tujuh kebiasaan tersebut terlaksana setiap hari, berkelanjutan, hingga menjadi budaya dan terinternalisasi menjadi karakter, karena disadari pembentukan karakter membutuhkan waktu dan keterlibatan berbagai pihak terutama keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Ia melanjutkan, tujuh kebiasaan yang dilakukan oleh murid tersebut pun ia catat setiap hari, kemudian diikutsertakan dalam Apresiasi GTK, yakni setiap catatan dan dokumentasi disampaikan kepada tim penilai.

"Sebenarnya tujuh kebiasaan ini sudah lama diterapkan di sekolah kami. Tapi waktu itu tidak kami catat dan tidak dilakukan dokumentasi, sehingga tidak ada bukti. Namun ketika ada sosialisasi untuk mengikuti lomba GTK, baru kemudian dilakukan pencatatan, sehingga sampai kini kami terus menerapkan kebiasaan ini," katanya.

Penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ini, pola pembinaan yang diterapkan mengadopsi pengalaman ketika ia menjadi guru di SMPN 3 Tenggarong, sekaligus menjadi Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, sehingga berbekal pengalaman ini, maka dengan mudah ia mengaplikasikan di sekolah yang kini dipimpinnya.

Bentuk aplikatif itu antara lain membuat "game" (permainan), yang di dalamnya terdapat penilaian semacam ulangan. Pola ini diterapkan agar anak lebih santai dalam menjawab soal, karena kebanyakan murid akan tegang ketika mendengar kata "ulangan", sehingga kata ini ia ganti dengan "game".

Ia melanjutkan, pada kebiasaan anak bangun pagi, hal ini dapat dibuktikan dengan hadir di sekolah tidak telat. Pada awalnya, ada yang telat antara 30-40 murid dari total 200 murid yang tersebar di kelas 7, 8, dan kelas 9.

"Bagi anak yang datang telat, kami tidak memberi hukuman, tapi kami lakukan komunikasi secara ceria agar anak tidak tidak tertekan. Kemudian komunikasi juga dengan orang tua untuk mengidentifikasi persoalan dan mencari solusi. Kini nyaris tidak ada yang telat, paling telat karena hujan," katanya.

Siswa SMPN 10 Loa Kulu saat panen sayur . (ANTARA/ HO- SMPN 10 Loa Kulu)

Terkait dengan kebiasaan makan sehat dan bergizi, sekolah ini bahkan berupaya mewujudkan ketahanan pangan sendiri melalui program "Satu Kelas Satu Kebun", yakni dengan memanfaatkan lahan di wilayah sekolah.

Dalam hal ini, tiap kelas diajak meneliti jenis tanah untuk menentukan jenis tanaman apa yang cocok di tanam, karena di lingkungan tersebut ada lahan yang gembur dan ada lahan dengan kondisi tanah liat.

Setelah meneliti keadaan tanah, para murid kemudian mencari literasi lewat internet tentang kondisi tanah dan kecocokan tanaman, sehingga masing-masing kelas kemudian memutuskan tanaman yang berbeda, yakni ada yang menanam jenis sayur mayur, jahe, serai, dan lainnya.

"Masing-masing kelas bertanggung jawab terhadap lahan yang telah mereka olah dan tanami sampai kemudian berhasil panen berkali-kali. Hasil panen kemudian dijual. Bahkan para guru pun sering membeli hasil panen mereka. Uangnya kemudian masuk kas kelas untuk kebutuhan kelas mereka," ujar Isnaini.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026