Samarinda (ANTARA) - Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah, Tanoto Foundation menghadirkan program Fasilitator Daerah (Fasda) Perubahan.
Salah satu sosok yang berperan penting dalam program ini adalah Nanang, fasilitator yang juga guru SDN 015 Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, yang kini menjadi motor penggerak inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah sasaran.
Nanang menuturkan bahwa langkah awal dalam pelaksanaan program ini adalah coaching kepada kepala sekolah. Tujuannya sederhana namun berdampak besar, yakni untuk mendorong para kepala sekolah agar berani berinovasi dan menghadirkan terobosan di sekolah masing-masing.
"Dilihat dari kondisi di sini, numerasinya anjlok, maka kita perlu memperkuat proses pembelajaran melalui alat peraga dan pendekatan yang kreatif," jelasnya.
Salah satu gagasan menarik yang dikembangkan adalah menghidupkan kembali permainan tradisional seperti gobak sodor, bermain karet, dan kelereng.
Permainan yang dulu lekat dengan keseharian anak-anak, kini diadaptasi menjadi media pembelajaran numerasi, olah rasa, olah pikir, sekaligus olah raga.
Dengan cara ini, belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga menyenangkan, kontekstual, dan sesuai dengan dunia anak.
Dari Guru Penggerak ke inisiatif perubahan sekolah
Menurut Nanang, perbedaan besar program fasilitator daerah antara tahun sebelumnya dan tahun ini terletak pada fokus program. Jika tahun lalu lebih menekankan pada pembinaan guru penggerak, maka tahun ini fasilitator daerah diarahkan untuk menyusun rancangan yang lebih konkret sebagai inisiatif perubahan sekolah.
"Program dan pelatihan dari Tanoto Foundation, tidak lagi sekadar menerima materi, tetapi kami diberikan ruang untuk merancang materi, jadwal, program, hingga progres pelaksanaan. Tidak hanya dukungan dana, Tanoto Foundation nantinya akan mengevaluasi keberhasilan sekolah secara menyeluruh," tambah Nanang.

Menyesuaikan potensi dan masalah sekolah
Setiap sekolah tentu memiliki tantangan berbeda. Di sinilah peran fasilitator daerah menjadi sangat penting. Nanang menegaskan bahwa pendekatan kini lebih fleksibel dan kontekstual, melihat potensi serta masalah spesifik di tiap sekolah.
“Sekarang lebih fleksibel untuk melihat potensi sekolah, karena setiap sekolah punya masalah yang berbeda-beda. Di sini kami lebih fokus di numerasi, sementara fasilitator lain bisa mengangkat isu yang berbeda sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Ke depan, hasil inovasi dari sekolah sasaran tidak berhenti di situ saja. Program ini akan didiseminasikan ke sekolah-sekolah lain, sehingga semangat perubahan dapat meluas dan memberi manfaat lebih besar.
Harapannya, sekolah menjadi maju dalam pembelajaran, berkembang dalam inovasi, dan terarah sesuai visi misi untuk meningkatkan rapor pendidikan.
Dengan komitmen seperti yang ditunjukkan Nanang, peran fasilitator daerah bukan lagi mendampingi, melainkan juga menyalakan api perubahan di sekolah-sekolah Indonesia, khususnya sekolah yang masuk di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar.
