Perempuan tahu betul kesulitan akses air bersih dan sanitasi. Karena itu keterlibatan mereka penting agar anggaran yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan

Balikpapan (ANTARA) -

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Balikpapan, Murni, menyambut baik masukan Koalisi PRIMA (Penguatan Representasi dan Inklusi Perempuan dalam Anggaran) terkait perbaikan layanan air bersih, sanitasi dasar, dan pengelolaan sampah di kawasan pesisir Balikpapan.

Ia menilai keterlibatan perempuan penting dalam memastikan anggaran daerah benar-benar menjawab kebutuhan warga.

“Perempuan tahu betul kesulitan akses air bersih dan sanitasi. Karena itu keterlibatan mereka penting agar anggaran yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” katanya di Balikpapan, Jumat.

Seperti diketahui bahwa Koalisi PRIMA merupakan gabungan lembaga swadaya masyarakat di Balikpapan dan Kalimantan Timur, yaitu Kota Kita, Pokja 30, Kaukus Perempuan Politik Indonesia, dan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

Sebelumnya dalam forum di mana Koalisi bertemu dengan Bappeda Balikpapan, Koalisi menyampaikan sejumlah rekomendasi tentang pengelolaan sampah di pesisir, antara lain permintaan penambahan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan Manggar, penyediaan kendaraan angkut sampah roda tiga, dan tempat sampah terpilah di tingkat RT.

Forum tersebut merupakan bagian dari program yang didukung oleh State Secretariat for Economic Affairs (SECO) Pemerintah Swiss, yang mendorong penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan penganggaran berbasis kinerja di tingkat daerah.

Dalam forum itu, Koalisi memaparkan hasil audit sosial dan analisis anggaran layanan air bersih, sanitasi, kebersihan, dan pengelolaan sampah (Water, Sanitation, and Hygiene atau WASH) di sejumlah kawasan pesisir Balikpapan. Temuan mereka menunjukkan masih banyak rumah tangga yang belum memiliki fasilitas sanitasi aman.

Akses sanitasi aman berarti toilet layak dengan closet leher angsa dan sistem pembuangan limbah yang tidak mencemari lingkungan.

Hal itu dapat ditemui diantaranya di Kelurahan Manggar Baru, Balikpapan Timur, yang menghadapi keterbatasan akses air bersih, saluran pembuangan air limbah dan air mandi (greywater), serta toilet yang belum memadai. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada kesehatan keluarga.

“Banyak keluarga di pesisir masih mengandalkan fasilitas sanitasi yang tidak layak. Air bersih terbatas, saluran air kotor langsung ke selokan besar, septic tank merembes, dan toilet yang tidak memadai,” kata Sulaiman dari Koalisi PRIMA.

Data Pemerintah Kota Balikpapan sendiri menyebutkan baru 11 persen warga yang memiliki akses ke sanitasi aman. Selama ini warga memang memiliki toilet, tetapi septic tank banyak yang bocor, satu toilet dipakai bersama beberapa keluarga, dan air limbah masih mengalir langsung ke parit. 



Pewarta: Novi Abdi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026