Samarinda (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Akhmed Reza Fachlevi, mendorong pemerintah untuk lebih fokus pada penciptaan lapangan kerja guna menyerap lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
“Kita bersyukur Indonesia mencapai usia dewasa 80 tahun. Harapannya tentu bisa lebih maju, adil, dan makmur,” kata Reza usai menghadiri Upacara HUT ke-80 RI di Gelora Kadrie Oening, di Samarinda, Minggu.
Menurutnya, momentum perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan tantangan ketenagakerjaan di samping mensyukuri berbagai kemajuan yang telah dicapai bangsa.
Meski demikian, ia menyoroti bahwa jumlah lulusan sekolah setiap tahunnya masih lebih tinggi daripada ketersediaan lapangan pekerjaan.
Hal ini menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi oleh pemerintah.
Reza menyatakan dukungannya terhadap program pendidikan seperti dual track di SMA maupun penguatan di SMK yang bertujuan meningkatkan keterampilan siswa. Namun, ia menekankan bahwa dukungan sarana dan prasarana pendidikan saja tidak cukup.
“Yang terpenting adalah bagaimana kesempatan kerja bagi mereka setelah lulus. Pemerintah ke depannya harus menyiapkan lapangan pekerjaan yang memadai,” ujarnya.
Lebih lanjut, politisi Partai Gerindra itu menegaskan pentingnya inklusivitas dalam dunia kerja. Ia meminta agar para penyandang disabilitas, khususnya lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB), juga diberikan kesempatan yang setara untuk mendapatkan pekerjaan dan berkarya.
“Teman-teman dari SLB juga perlu diberi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan setelah mereka lulus nanti,” tegasnya.
Selain sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, Reza menambahkan bahwa DPRD Kaltim juga menaruh perhatian pada pengembangan bidang keolahragaan.
Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan mendorong peningkatan sarana dan prasarana di Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim.
Ia menyimpulkan bahwa konsentrasi utama saat ini seharusnya bukan hanya pada program sekolah gratis, tetapi pada jaminan masa depan para pelajar setelah mereka menamatkan pendidikannya.
“Fokus kita seharusnya pada nasib mereka pasca-bersekolah, karena itu yang lebih penting,” demikian Reza.
