Samarinda (ANTARA) - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menawarkan peluang pengelolaan sekitar 500 sumur minyak idle atau tidak aktif kepada mitra strategis guna mendongkrak produksi migas nasional pada tahun 2026.
"Kami melihat potensi besar dari total 5.008 sumur idle yang masih memiliki kandungan hidrokarbon untuk dikerjasamakan dengan berbagai pihak, mulai dari kontraktor swasta hingga BUMD," ujar Vice President Production and Project PHE Benny Hidajat Sidik di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa.
Benny menjelaskan, skema kerja sama reaktivasi ini mengacu pada regulasi terbaru, yakni Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 yang memberikan kepastian hukum lebih kuat.
Tantangan utama dalam reaktivasi sumur ini meliputi tekanan subsurface yang rendah, ketiadaan fasilitas produksi di permukaan, hingga isu keekonomian yang marginal.
Oleh karena itu, PHE menerapkan strategi partnership karena beberapa sumur dinilai tidak ekonomis jika dikerjakan sendiri oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) namun menarik bagi skala bisnis mitra.
"Untuk tahun 2026, PHE menargetkan pengerjaan mandiri sebanyak kurang lebih 800 sumur dan membuka potensi kerja sama untuk sekitar 500 sumur lainnya," papar Benny.
Skema yang ditawarkan mencakup Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT), kerja sama dengan BUMD/Koperasi, hingga pengusahaan sumur tua.
Guna menarik minat investor, skema bagi hasil atau split dirancang kompetitif dengan persentase bagian kontraktor yang disesuaikan berdasarkan jenis kerja sama.
Calon mitra yang berminat diwajibkan memenuhi syarat teknis berupa pengalaman operasi migas minimal tiga tahun serta memiliki kemampuan finansial yang sehat.
Proses penawaran umum untuk batch kerja sama tahun 2026 dijadwalkan akan dibuka secara resmi pada kuartal ketiga atau sekitar Juli hingga Agustus mendatang.
Pendaftaran minat dan penyampaian Letter of Intent (LOI) dapat dilakukan secara daring melalui situs web resmi perusahaan untuk menjamin transparansi.
