Balikpapan (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan terus memperkuat pengelolaan sampah terpadu di tingkat masyarakat melalui pengembangan bank sampah dan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu). Langkah ini ditujukan untuk mencapai target pengurangan sampah hingga 50 persen pada akhir tahun 2025.
Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan, pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama masyarakat sesuai amanat Perda Nomor 4 Tahun 2022 tentang pengelolaan sampah.
“Kita galakkan kembali pembentukan bank sampah di tiap kelurahan untuk mengurangi timbunan dari sumber. Sampah itu tanggung jawab warga, jadi harus dimulai dari rumah,” ujar Sudirman di Balikpapan, Minggu (2/11).
Hingga kini, DLH mencatat telah terbentuk sekitar 330 bank sampah aktif di seluruh kelurahan. Jumlah ini melampaui target minimal enam bank sampah per kelurahan atau sekitar 204 unit secara keseluruhan.
Selain bank sampah, lanjut Sudirman, pemerintah juga memperluas pembangunan TPST di setiap kecamatan sebagai upaya memperkuat sistem pengolahan di tingkat menengah sebelum sampah dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar.
“Satu TPST sudah beroperasi di kawasan Kota Hijau, dan dua lainnya sedang dibangun di Kilometer 12 serta Graha Indah,” jelas Sudirman.
Ia menerangkan, TPST berfungsi memilah dan mengolah sampah dari lingkungan sekitar, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang akan dikirim ke TPA. Dengan sistem ini, beban TPA diharapkan semakin berkurang.
Kota Balikpapan menghasilkan sekitar 550 ton sampah per hari, dan sejauh ini telah berhasil dikurangi sekitar 30 persen melalui berbagai program edukasi, bank sampah, dan pengolahan terpadu.
“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah, kami optimistis target pengurangan 50 persen bisa tercapai pada Desember nanti,” tambahnya.
Sudirman menambahkan, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan kota, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sedangkan non-organik bernilai jual bagi warga.
“Kita ingin masyarakat melihat sampah bukan beban, tapi sumber ekonomi yang bisa dikelola,” tutupnya. (adv)
