Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur memperkuat perlindungan identitas bangsa melalui berbagai karya budaya lokal sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
"Penetapan ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi hak asal-usul karya agar tidak diklaim pihak luar atau dikomersialisasi secara sepihak," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Barlin Hadi Kusuma di Samarinda, Sabtu.
Langkah ini, menurut dia sebagai tindak lanjut atas pengukuhan empat karya budaya Kementerian Kebudayaan yakni sarung Samarinda, amplang, amparan tatak, dan bubur peca.
Barlin menegaskan bahwa label WBTBI bukan sekadar pemberian status seremonial, melainkan sebuah instrumen hukum untuk menjaga kedaulatan budaya.
Pemerintah daerah kini tengah menghadapi tantangan besar berupa lemahnya literasi dan dokumentasi sejarah pada objek budaya yang ada.
"Banyak warisan tradisi yang telah berusia lebih dari setengah abad gagal meraih status nasional karena minimnya catatan jurnal akademik," ungkapnya.
Kurangnya data teknis dan dokumentasi visual yang kuat menyebabkan usulan seperti Kapal Tambangan belum berhasil menembus verifikasi pusat.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa narasi intelektual kini memegang peranan yang sama pentingnya dengan praktik tradisi itu sendiri di lapangan.
Selain aspek legalitas, esensi utama dari WBTBI adalah pelestarian nilai luhur seperti simbol kesabaran dan akulturasi pada sarung Samarinda.
Barlin menjelaskan tentang bubur peca yang juga mengandung filosofi sebagai simbol kelembutan hati yang mengikat tali persaudaraan antar-etnis di Samarinda Seberang.
Pada era digital ini, Barlin mendorong generasi milenial dan Gen-Z untuk mengambil peran sebagai garda terdepan dalam digitalisasi budaya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda berkomitmen mendukung penuh kolaborasi lintas sektor guna menyelamatkan nilai-nilai luhur dari ancaman kepunahan.
"Target usulan karya budaya baru untuk tahun depan kini bergantung pada sinergi antara praktisi budaya dan kalangan akademisi," ujar Barlin.
