Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur meningkatkan kapasitas petugas kesehatan puskesmas dalam mendeteksi dini pneumonia pada balita melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
"Alat kesehatan dasar seperti termometer dan oksimeter harus tersedia dan berfungsi di Puskesmas untuk menentukan derajat keparahan ISPA secara akurat," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, Sabtu.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi petugas sangat krusial karena beban penyakit pneumonia masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar pada balita di Indonesia.
Sementara Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim Ivan Haryadi menambahkan bahwa penghitungan frekuensi napas secara tepat adalah kunci diagnosis agar kasus pneumonia tidak terlewat saat pemeriksaan awal.
Pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya standardisasi layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang tidak hanya sekadar program, melainkan kewajiban pelayanan standar.
Dinkes Kaltim memaparkan detail teknis penilaian tanda bahaya umum pada anak seperti kemampuan minum, kejang, hingga suara napas stridor.
Selain aspek klinis, perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan menjadi sorotan utama karena data kasus dari Kalimantan Timur di tingkat pusat sempat tercatat nol persen.
Tim Kerja ISPA Kementerian Kesehatan Deni memperkenalkan format pelaporan baru berbasis perangkat lunak yang akan mulai diterapkan secara efektif pada Januari 2025.
"Perubahan indikator program kini bergeser dari sekadar pengobatan menjadi fokus pada cakupan penemuan kasus dengan target nasional mencapai 50 persen pada tahun 2026," kata Deni.
Simulasi yang telah dilakukan Dinkes Kaltim tentang pengisian data sasaran balita dan estimasi kasus menggunakan angka pengali khusus wilayah langsung dipraktikkan oleh para peserta dari berbagai kabupaten dan kota.
Dinas Kesehatan berharap kolaborasi lintas program seperti gizi dan imunisasi dapat semakin solid untuk menekan angka kesakitan akibat infeksi saluran pernapasan akut ini.
Baca juga: Ikata Dokter Indonesia minta protokol kesehatan diperkuat, antisipasi COVID-19
