Samarinda (ANTARA) - Pelaku industri perhotelan di Provinsi Kalimantan Timur kini mulai mengubah fokus strategi pasar dengan membidik segmen korporasi dan individu demi menjaga stabilitas tingkat hunian kamar untuk prospek tahun 2026.
"Kami harus segera melakukan peralihan pasar jika segmen kegiatan pemerintah berkurang dengan menyasar pelanggan daring, korporasi, ataupun tamu individu," kata Ketua Bidang Keanggotaan Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kalimantan Timur Hendri Kurniawan di Samarinda, Selasa.
Hendri menjelaskan bahwa langkah riset ulang terhadap target konsumen menjadi hal krusial untuk dilakukan manajemen hotel di awal tahun ini.
Strategi utama yang disiapkan asosiasi meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia serta renovasi bangunan fisik hotel untuk memberikan pengalaman menginap yang baru bagi tamu.
Salah satu bentuk adaptasi di lapangan adalah perbaikan fasilitas ibadah seperti pemisahan tempat wudhu demi kenyamanan tamu yang menjadi prioritas layanan.
"Inovasi dan kecepatan adaptasi mutlak diperlukan mengingat tren positif sepanjang tahun 2025 justru menunjukkan bahwa tamu hotel didominasi oleh warga lokal Samarinda yang melakukan aktivitas staycation," papar Hendri.
Lanjut dia, fenomena tamu lokal ini menjadi peluang besar bagi pengelola hotel untuk membuat paket-paket menarik yang menyasar keluarga maupun perorangan secara lebih spesifik.
Adyatama Parekraf Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim Hery Soesanto menambahkan bahwa momentum libur Natal dan Tahun Baru kemarin telah mendongkrak okupansi hingga rata-rata 70 persen di Balikpapan dan Samarinda.
"Kami berharap angka hunian tersebut dapat terus dijaga agar stabil di kisaran 50 hingga 55 persen untuk hari-hari biasa," ucap Hery.
Pembukaan akses jalan tol menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sempat digratiskan juga dinilai memberikan dampak signifikan bagi pergerakan wisatawan ke daerah penyangga.
Kemudahan akses transportasi darat terbukti mampu memangkas waktu tempuh sehingga masyarakat lebih antusias untuk singgah ke kota-kota sekitar kawasan inti pemerintahan.
Pengamat Pariwisata dari Politeknik Negeri Samarinda I Wayan Sudarmayasa menilai daerah penyangga seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara mendapat dampak positif ekonomi dari konektivitas tersebut.
Wayan menyarankan agar pihak hotel segera memperkuat kolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memasukkan produk lokal ke dalam rantai pasok bisnis mereka.
Ditambahkan Wayan, dukungan kebijakan pemerintah dalam menghadirkan kegiatan berskala nasional ke daerah juga dinantikan oleh para pelaku usaha akomodasi agar perputaran uang semakin meningkat.
