Samarinda (ANTARA News Kaltim) - Siapa pasangan yang baru menikah setengah bulan berani merantau dari Jawa ke Kalimantan? Siapa berani merantau menyeberang pulau hanya dengan bekal untuk tiga kali makan? Dialah Marsinah dan suaminya Tukiran.
Tidak ada halangan bagi pasangan pengantin baru ini untuk memutuskan merantau ke Kalimantan. Indahnya menjadi pengantin memang masih terasa. Ucapan selamat sanak-keluarga, handai tolan belum pupus dari ingatan. Sebagai pengantin, keduanya diperlakukan sebagai raja.
Kedudukan sebagai raja sehari harus diakhiri. Perut mesti diisi. Masa depan tergantung hari ini. Setelah bersanding, keluarga pulang ke rumah masing-masing. Tak ada lagi yang memasakkan apalagi menghidangkan makanan.
Keduanya harus cari makan sendiri. Tapi apa yang bisa dimakan jika mereka harus mempertahakan kehidupan di desa ini. Rumah tidak punya, apalagi tanah. Marsinah selama ini tinggal di tempat orang tua. Demikian pula Tukiran.
Mereka ingin punya anak dan kehidupan yang lebih layak. Maka, mereka sepakat meninggalkan tanah leluhur ini dan mencari peruntungan ke Kalimantan.
Perjalanan amat melelahkan. Kapal yang mereka tumpangi baru tiba setelah berlayar ke Samarinda tiga hari tiga malam. Hal yang mengenaskan, bekal hanya 3 ribu rupiah yang cukup untuk 3 kali makan di zaman itu.
Ketika, keesokan paginya kapal merapat, perut mereka telah meronta sangat kuat. Di dekat pelabuhan itu, warung soto Lamongan memintanya membayar seribu rupiah untuk 3 piring nasi dan 3 gelas teh tanpa gula.
Sebelum makan siang, Marsinah pun berkata kepada suaminya.
"Kalau siang nanti kita makan seperti ini lagi maka kita kehilangan seribu rupiah. Jika seribu rupiah itu kita gunakan untuk makan nanti malam, maka, esok pagi kita akan kelaparan."
Tukiran tak menyahut, tapi otaknya bekerja keras untuk menemukan jalan. Ya Allah, bagaimana caranya, agar kebutuhan perut terpenuhi dan duit yang ada tidak berkurang, kata Tukiran dalam hati.
Kemiskinan dan ancaman kelaparan membuat orang berpikir. Orang-orang yang kenyang, biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya di ranjang, tidur di siang hari, begadang menonton TV di waktu malam.
Kemiskinan harus disyukuri karena kemiskinan membuat orang mencari jalan. Kemiskinan tak harus dikeluhkan karena keluhan bukanlah jalan keluar untuk melepaskan diri dari kemiskinan itu sendiri.
Acap kali peluang yang bertebaran di muka bumi hanya bisa "dibaca" oleh mereka yang berada dalam posisi miskin. Peluang itu lahir karena mata, telinga, akal, dan perasaan mereka peka terhadap stimulus/rangsangan dari luar yang bisa membantu mereka keluar dari kemiskinan.
Banyak orang sukses lahir karena kemiskinan. Karena miskinlah mereka memiliki motivasi untuk mencari kehidupan yang lebih baik, lebih layak dari mereka alami sekarang.
Di tangan orang miskin, sampah bisa menjadi benda yang bernilai dan mendatangkan uang. Kita sering menyaksikan betapa sandal jepit bekas bisa berubah menjadi aneka mainan anak-anak seperti mobil-mobilan. Pipet untuk meneguk minuman bisa menjadi kotak tisu. Kaleng minuman ringan diubah menjadi kapal-kapalan. Plastik kemasan sabun bubuk/colek bisa menjadi tas belanja ibu-ibu ke pasar.
Mereka yang mengubah benda-benda tak berharga itu tak pernah lahir dari tangan mereka yang kekenyangan. Orang yang kekenyangan tak bisa melihat peluang karena perutnya tidak berteriak kelaparan. Karena tidak berteriak maka otaknya juga tidak menyuruh dia bergerak.
Kekenyangan justru merangsang dia untuk tidur sebab perut kenyang menjadi salah satu penyebab mengantuk. Orang-orang yang mengantuk tidak bisa lagi memanfaatkan mata, telinga, dan pikirannya.
Maka, kemiskinan jangan dikeluhkan karena ia jalan menuju kesuksesan dan berhati-hatilah terhadap kekayaan karena kekayaan adalah jalan menuju kemalasan. Kemalasan adalah salah satu penyebab kemiskinan.
Kelaparan itulah yang memicu Marsinah dan Tukiran beserta adiknya untuk mencari jalan keluar, mencari peluang agar uang 2 ribu rupiah di tangan tidak segera habis.
Pedagang rambutan dengan sepeda ontel lewat telah membuka mata Marsinah. Ini peluang. Pedagang itu ditaksirnya pasti bukan pemilik pohon rambutan, melainkan membeli dari orang.
Setelah tanya sana-sini, tahulah mereka Pasar Pagi Samarinda tak sampai 2 km jaraknya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya 2 ribu itu dihabiskan untuk membeli rambutan 20 ikat, satu ikatnya 100 rupiah. Rambutan itu pun kemudian ditawarkan kepada pemilik toko di sepanjang perjalanan ke tempat mereka ‘mangkal’ di daerah pelabuhan.
Rambutan itupun menjadi juru selamat karena semua terjual dengan harga 150 rupiah per ikatnya dan itu berarti uang mereka utuh kembali 3 ribu rupiah. Malam pun datang, ketiganya terlelap di emperan toko yang berderet di sekitar pelabuhan.
Itulah kisah awal kedatangan Marsinah dan Tukiran beserta seorang adiknya di Samarinda tahun 1982 silam. Tahun 2010 yang lalu, atau 28 tahun kemudian, Marsinah yang sempat menjadi pembantu, Tukiran bersama adiknya jadi kuli di pelabuhan, telah dipanggil "mbah" oleh 11 cucunya.
Ia sudah beranak-pinak di kota ini dan dikenal sebagai pengusaha sukses penyuplai sayur dan buah di Samarinda. Buah dan sayur yang ada di minimarket dan supermarket di kota ini sebagian besar dipasok oleh Marsinah dan Tukiran. Buah dan sayur itu mereka datangkan dari Surabaya.
Diangkut dengan truk-truk puso dan dikapalkan dari Tanjung Perak ke pelabuhan Semayang-Balikpapan. Dari sini, sayur dan buah itu dibawa ke Samarinda yang jaraknya 115 km.
Tahun 2010 Tukiran-Marsinah beserta anak dan cucunya menunaikan ibadah haji setelah menjual separo tanahnya di jalan Pandan Wangi dengan harga 3,5 miliar rupiah. Tanahnya di lokasi itu masih luas. Mereka masih punya 5 petak toko di Pasar Grosir Segiri, 12 ha lahan perkebunan di Teluk Dalam.
Setiap hari, keduanya lebih banyak mengkuti kegiatan sosial dan memperbanyak ibadah daripada mengurusi usahanya. Usahanya sudah berkembang lebih cepat karena ditangani oleh anak-anaknya yang jauh lebih cekatan, lebih cerdas dan lebih mampu membaca peluang.
Hanya satu ditakutkan Marsinah dan Tukiran, kekayaan itu bisa membuat orang lupa daratan dan lupa bersyukur. Orang yang tidak bersyukur terhadap karunia Tuhan, akan berhadapan dengan siksa pedih yang tak terkirakan. Maka, hari-harinya lebih banyak digunakan pada kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang dan beribadah kepada Tuhan. (*)
*) Penulis adalah Syafruddin Pernyata (Espe), Sastrawan Kaltim
