Balikpapan (ANTARA) - Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Pemkot Balikpapan, Adwar Skenda Putra menegaskan bahwa Kota Balikpapan memiliki posisi strategis sebagai pusat industri di Kalimantan Timur karena didukung infrastruktur semakin lengkap.
"Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian kota, dengan kontribusi lebih dari 47 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)," kata Adwar di Balikpapan, Rabu.
Ia menyebutkan struktur ekonomi kota juga bertumpu pada jasa dan logistik, dan mendorong perkembangan pusat industri dengan kemampuan mumpuni di bidang migas, manufaktur, perkapalan, hingga teknologi pendukung industri lainnya.
“Ini bukti bahwa Balikpapan memiliki ekosistem industri yang hidup, solid, dan terus berkembang. Infrastruktur kita semakin lengkap, mulai pelabuhan internasional, bandara modern, fasilitas logistik, sentra UMKM, hingga cold storage yang menunjang kualitas produk UMKM,” papar Adwar.
Menurutnya, kehadiran industri besar dan menengah yang terus diperbarui datanya oleh BPS (Badan Pusat Statistik) semakin memperkuat pondasi perekonomian kota. Namun, Balikpapan tetap memiliki tantangan, terutama dominasi sektor migas dalam struktur ekonomi.
Karena itu, diversifikasi industri nonmigas menjadi keharusan. Industri mikro dan kecil juga perlu didorong, karena masih banyak yang menghadapi kendala permodalan, teknologi, dan pemasaran.

Lanjutnya, Pemerintah Kota Balikpapan berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi, akses pembiayaan, fasilitas infrastruktur, serta kerja sama dengan perusahaan besar agar UMKM dapat naik kelas dan masuk dalam rantai pasok industri nasional.
"Hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi peluang besar bagi pertumbuhan industri Balikpapan. Permintaan terhadap permesinan, teknologi, makanan olahan, dan jasa industri diprediksi meningkat signifikan. Peluang ekspor produk nonmigas juga semakin terbuka mengikuti tren positif yang dicatat BPS," katanya.
Namun, ia mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tetap mewaspadai dinamika global, ketidakpastian ekonomi, persaingan kawasan industri, hingga tuntutan standar lingkungan yang semakin tinggi.
“Transformasi teknologi dan inovasi harus menjadi fokus agar industri Balikpapan tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan,” demikian Adwar. (Adv)
