Balikpapan (ANTARA) - Dokter ahli bedah pembuluh darah dr Suhartono mengingatkan gaya hidup tidak sehat dan banyak makan gula bisa menjadi pemicu utama gangguan pembuluh darah di usia produktif.
“Kalau dulu pasien kami rata-rata usia 60 ke atas, sekarang banyak yang datang di usia 40-an. Ini alarm bagi kita semua,” kata dr Suhartono di Balikpapan pertengahan pekan ini.
Pergeseran usia pasien ini menunjukkan bahwa penyakit pembuluh darah bukan lagi ancaman bagi lansia semata, melainkan juga terjadi padkelompok usia aktif yang masih bekerja dan berkegiatan.
“Kalau sumbatan terjadi di kaki, bisa berujung luka yang tidak sembuh dan berakhir amputasi. Jadi ini bukan hanya gangguan aliran darah, tapi bisa memengaruhi kualitas hidup,” ujarnya.
Kemajuan teknologi medis memungkinkan tindakan minimal invasif untuk menangani gangguan tersebut. Prosedur ini hanya memerlukan sayatan kecil dan menggunakan alat bantu seperti balon angioplasti atau stent untuk membuka sumbatan pembuluh darah.
“Nyeri lebih ringan, masa rawat lebih singkat, dan risiko komplikasi jauh lebih rendah dibanding operasi terbuka,” kata Suhartono.
Ia juga memaparkan teknik endovaskular terkini seperti EVAR dan TEVAR untuk perbaikan aneurisma, serta laser dan radiofrequency ablation (RFA) untuk varises dan trombosis vena dalam. Selain itu, fasilitas kesehatan tempat ia bertugas juga menangani akses vaskular untuk pasien hemodialisis melalui pembuatan saluran khusus (fistula atau graft).
Pun demikian, penanganan ini di Indonesia masih memerlukan biaya tinggi sebab banyak peralatan yang digunakan masih diimpor, atau diprioduksi terbatas di dalam negeri, dan hanya untuk sekali pakai
Ditambah lagi, meski metode penanganan terus berkembang, ketersediaan tenaga ahli bedah vaskular masih menjadi persoalan tersendiri. Jumlah dokter bedah vaskular di Indonesia baru 120 orang dari kebutuhan sedikitnya 500 orang dalam jangka waktu pendek ini, atau hingga 5.000 orang dalam jangka panjang untuk melayani populasi nasional yang terus bertambah.
Sebagian besar dokter bedah vaskular masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa. Di beberapa provinsi, hanya terdapat dua hingga tiga dokter, padahal idealnya minimal lima dokter per provinsi.
Keterbatasan ini disebabkan oleh minimnya fasilitas pendidikan subspesialis dan tingginya biaya pendidikan lanjutan. Saat ini, hanya satu institusi pendidikan yang membuka program subspesialis bedah vaskular, yakni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
“Ini tantangan kita bersama untuk pemerataan layanan,” kata dr Suhartono.
Pada kesempatan itu juga ia berharap media lokal dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarkan informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami masyarakat.
“Pencegahan bisa dimulai dari hal sederhana: olahraga, makan seimbang, berhenti merokok, dan rutin cek tekanan darah,” demikian dr Suhartono.
