Kutai Kartanegara, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, melakukan transformasi dari yang selama ini mengandalkan sektor tambang batu bara dan penggalian, secara perlahan dialihkan ke ekonomi berbasis pertanian dalam arti luas, pariwisata dan ekonomi kreatif.
"Dalam beberapa tahun terakhir Pemkab Kutai Kartanegara terus melakukan proses transformasi ekonomi dari ketergantungan terhadap sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui ke SDA yang dapat diperbaharui," kata Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri di Tenggarong, Rabu.
Di bidang pariwisata misalnya, pemda menambah sejumlah fasilitas pendukung wisata, terutama pada lima destinasi wisata unggulan, seperti Pulau Kumala, Planetarium, Waduk Panji, Pantai Tanah Merah dan Tugu Khatulistiwa atau Tugu Equator.
Di Pulau Kumala misalnya, saat ini sedang ditambah atraksi pendukung, yakni pembangunan waterboom untuk menambah daya tarik, dengan sistem pembangunan tahun jamak sejak 2023 dan ditargetkan tuntas pada 2026.
Keberadaan fasilitas pendukung destinasi wisata ini jadi salah satu wahana wisata modern, bahkan disebut menjadi yang terlengkap di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), sehingga akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik lokal maupun dari luar daerah.
"Sedangkan di bidang pertanian, Pemkab Kutai Kartanegara mengarahkan pada modernisasi pertanian untuk mendongkrak produktivitas sekaligus untuk efisiensi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan," kata Aulia.
Menurut dia, kemajuan teknologi pertanian bukan hanya berperan penting dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan memperkuat ketahanan pangan, namun bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan.
Teknologi pertanian yang diterapkan antara lain penggunaan traktor, cuktivator, drone, sistem irigasi pintar, bioteknologi, dan platform digital, sehingga peralatan ini dapat membantu petani mengoptimalkan penggunaan lahan, air, dan pupuk, serta mempermudah pemasaran hasil panen, karena produk pertanian organik untuk membantu kesehatan konsumen.
Berkat keseriusan transformasi ekonomi ke SDA yang dapat diperbarui ini dalam dua tahun terakhir, maka produksi padi di Kutai Kartanegara pun menjadi yang tertinggi di Kaltim, sehingga daerah ini menjadi lumbung pangan bukan saja bagi kabupaten setempat, tapi juga bagi provinsi.
Pada 2024 misalnya, Kutai Kartanegara berkontribusi 50,71 persen dari total produksi se- Kaltim. Dari total luas panen 57.143,29 hektare (ha) di Kaltim, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas panen 26.744,87 ha atau sebesar 46,80 persen, sedangkan untuk produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 115,10 ribu ton atau sebesar 50,71 persen.
