Kubar, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur berkomitmen melestarikan adat dan budaya daerah, dibuktikan dengan berbagai acara adat yang sering digelar, seperti Moyek Mopooi, Ngugu Tahun, Belian, Kenyau Kuangkai, dan adat pemotongan kerbau.
Ada pula Festival Dahau yang digelar setiap Oktober untuk memperingati HUT Kabupaten Kubar dan Festival Hudoq Pekayang yang juga digelar setiap Oktober.
"Semua kegiatan tersebut masing-masing memiliki makna dan tujuan tersendiri dalam melestarikan budaya, termasuk untuk mempererat hubungan persaudaraan di tengah masyarakat," kata Bupati Kubar Frederick Edwin di Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Rabu.
Bukan hanya kegiatan yang bersifat upacara dan festival yang digelar pemda dalam melestarikan adat, namun juga dari sisi kelembagaan adat dan pelakunya yang menjadi perhatian, terlebih pelaku merupakan subjek utama dalam pelestarian adat dan budaya.
Pada dua hari lalu, ia menghadiri pelantikan Kepala Adat Kampung Juaq Asa "Lawe Bulaau", Kecamatan Barong Tongkok. Kehadiran dia tersebut sebagai bentuk dukungan moral agar kepala adat, pelaku, dan sesepuh terus melestarikan adat dan budaya lokal.
Baca juga: Pemkab Mahulu komitmen lestarikan adat budaya
Menurut dia, pelantikan pemangku adat kesempatan penting dan bersejarah bagi perjalanan adat dan budaya ke depan, baik bersejarah bagi kabupaten, kecamatan, maupun terlebih bagi kampung setempat.
"Pelantikan bukan sekadar seremoni dan formalitas, melainkan bentuk peneguhan kembali terhadap peran vital adat dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Adat adalah fondasi kokoh, warisan luhur dari para leluhur yang senantiasa menjaga harmoni, kearifan lokal, dan identitas dalam sebuah komunitas," kata Frederick.
Saat ini, ujarnya, masyarakat berada dalam kehidupan global yang cepat terjadi perubahan akibat berkembangnya teknologi informasi, sehingga kecepatan informasi yang masuk ini terjadi adanya paradigma baru yang belum tentu sesuai dengan adat dan budaya daerah.
"Di tengah semua perubahan itu, adat dan budaya kita harus tetap menjadi kompas, penuntun arah yang menjaga kita dari keterpecahan, melestarikan kekayaan spiritual dan sosial yang harganya tak ternilai," katanya.
Ia mengingatkan kepala adat memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah, terutama dalam memperkuat identitas budaya dan mempererat hubungan sosial masyarakat, sehingga pemkab akan terus bersinergi dengan sesepuh, tokoh, hingga masyarakat adat.
Baca juga: Pengakuan masyarakat adat bagian dari penghormatan negara
