Samarinda (ANTARA Kaltim) - Nilai tukar petani subsektor peternakan di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik pada September 2016 mencapai 104,35, atau masih berada di peringkat paling tinggi ketimbang empat subsektor pertanian lainnya.
"Di sektor pertanian dalam arti luas, terdapat lima subsektor yang dipisah untuk menentukan tingkat perkembangan nilai tukar petani (ntp) yang terjadi tiap bulan. Sejak lama subsektor peternakan berada di level teratas," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim M Habibullah di Samarinda, Senin.
Secara keseluruhan ntp pertanian dalam arti luas selama September masih rendah yang hanya tercatat 98,64 walaupun angka ini meningkat ketimbang ntp bulan sebelumnya yang hanya tercatat 98,14 atau terjadi perkembangan 0,51 persen.
Sedangkan jika diperhatikan per subsektor, maka yang paling kuat adalah ntp ternak yang mencapai 104,35. Disusul ntp perikanan yang hanya 100,68, kemudian ntp tanaman perkebunan rakyat 100,44, ntp tanaman pangan hanya 97, dan ntp hortikultura lebih terpuruk yang hanya tercatat 92,04.
Menurutnya, ntp merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Ntp juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang maupun jasa baik yang dikonsumsi oleh petani maupun untuk biaya.
`Semakin tinggi angka ntp, maka secara relatif semakin kuat tingkat daya beli petani. Untuk angka keseimbangan ntp adalah 100. Jika ntp di bawah 100 berarti petani rugi. Jika NTP di atas 100 seperti peternakan, berati kemampuan daya beli peternak menguat," ucapnya.
Berdasarkan hasil pantauan harga perdesaan di semua kabupaten di Kaltim, lanjutnya, pada September 2016 ntp Kaltim tercatat 98,64 yang berarti petani Kaltim masih mengalami defisit atau penurunan daya beli, karena kenaikan penerimaan hasil tani relatif lebih kecil ketimbang kenaikan harga produksi dan kebutuhan keluarga. (*)
