Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Sejumlah perusahaan perkebunan yang berlokasi di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyatakan dukungan penuh atas pengukuhan Hutan Adat Wehea sebagai upaya pelestarian lingkungan.
"Hutan ini berdekatan dengan kebun kami, sehingga kami juga berkomitmen untuk menjaganya," kata Community Development Officer PT Karyanusa Eka Daya (KED) Sigit Susanto dihubungi dari Balikpapan, Kamis.
KED, bagian dari Grup Astra, mengelola perkebunan kelapa sawit inti dan plasma seluas 16.000 hektare di Muara Wahau. Kampung-kampung Orang Wehea seperti Nehas Liah Bing, Long Wehea, Dea Beq, Ben Heas, Jaq Lay, berbatasan langsung dengan kebun KED.
Menurut Sigit Susanto, KED membantu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia setempat dengan menggelar pendidikan konservasi dan keanekaragaman hayati.
"Kami membantu melakukan pembibitan tanaman langka seperti ulin dan meranti, menanamnya di sejumlah titik antara lain juga di kawasan kaya keanekaragaman hayati yang ada di tengah kebun kami, program ekowisata, hingga membantu publikasi kegiatan-kegiatan masyarakat," papar Sigit.
Dukungan lain terhadap Hutan Adat Wehea datang dari PT Narkata Rimba, perusahaan hak pengusahaan hutan yang merelakan sebagian konsesinya dijadikan sebagai hutan adat tersebut.
Gerbang Keltah Keldung Las Wehea atau Hutan Adat Wehea ada di Kecamatan Telen, Kutai Timur, di kilometer 62 tepi jalan logging PT Narkata Rimba yang berawal dari Kampung Ben Heas, kampung paling utara Wehea.
Hutan Adat Keltah Keldung Las tersebut meliputi juga hutan adat Long Sekung Metguen seluas lebih kurang 22.000 hektare yang selama ini sudah dikelola oleh Orang Wehea di barat konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Gunung Gajah, Muara Wahau.
Hutan adat ini memasukkan hutan tropis dataran rendah yang selama ini dikelola PT Rehabilitasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), dan konsesi HPH PT Narkata Rimba yang tidak ekonomis untuk diproduksi karena medannya yang curam.
Sebab itu, menurut Ledjie Taq, kondisi hutan tersebut masih sangat bagus, baik flora maupun faunanya, sehingga sangat cocok untuk program pelepasliaran orangutan (Pongo pygmaeus morio) yang dikerjakan Yayasan Penyelamatan Orangutan Kalimantan (BOSF) dan PT RHOI.
"Masih banyak pohon kayu yang besar-besar, ada ulin, meranti. Satwanya ada burung rangkong, orangutan, beruang madu, yang semuanya dilindungi," jelas Ledjie Taq.
Ulin (Eusideroxylon zwageri) adalah kayu khas Kalimantan. Biasa juga disebut kayu besi dan merupakan bahan bangunan nomor satu di Pulau Borneo. Karena begitu dicari untuk dimanfaatkan, kayu ini akhirnya menjadi semakin langka.
Ledjie Taq melanjutkan, sebagai orang alam, Orang Wehea tergantung sepenuhnya kepada hutan dan sungai untuk mendapatkan kehidupan.
Dari hutan, Orang Wehea mendapatkan bahan-bahan untuk upacara adat dari hutan, seperti beberapa jenis rotan dan daun-daunan. Dari pohon-pohon Dipterocarpacea seperti meranti didapat getah damar yang memiliki manfaat banyak. Pohon meranti juga kesukaan lebah untuk bersarang sehingga bisa didapatkan madunya.
"Hutan ini warisan kami, warisan kita, kepada anak cucu kita sehingga harus kita jaga bersama," kata Ledjie Taq. (*)