Samarinda (ANTARA) - Merabu, sebuah kampung di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), beberapa tahun terakhir kerap dikunjungi wisatawan nusantara hingga mancanegara, setelah ditemukan peninggalan peradaban purba di Goa Beloyot yang diperkirakan berusia 40.000 tahun.
Tidak mudah untuk sampai ke goa ini, pengunjung harus berjalan kaki sekira dua jam jalan kaki dari Kampung Merabu, lantaran belum ada akses jalan yang dibuat.
Lagi pula, jalan yang dilalui merupakan hutan alam yang harus dijaga. Kalau pun suatu saat dibuat akses, maka harus tetap mempertimbangkan ekosistem, seperti jalan tidak hanya boleh dilintasi kendaraan roda dua dan dibuat seperti jembatan gerting, agar tumbuhan tetap bisa hidup di bawah jalan.
Rahman (48 tahun), pemandu tim yang terdiri dari beberapa wartawan bersama perwakilan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), sejak dari Merabu sudah mewanti-wanti rombongan untuk mengenakan sepatu takul atau sepatu boot dan membawa jas hujan.
Fungsi sepatu takul dan boot adalah agar tidak licin karena sepanjang jalan setapak yang dilintasi becek, bahkan di beberapa titik merupakan jalan berair, bahkan ada yang melintasi cucu sungai. Sedangkan jas hujan untuk pengamanan ketika hujan turun.
Setelah dua jam jalan kaki dan sampai di mulut goa, Rahman mengingatkan rombongan untuk mengenakan helm, agar kepala tidak terbentur dinding maupun langit goa, karena di beberapa bagian ada goa yang tingginya sekira 1 meter.
Setelah menyusuri liku dan lorong goa bekas sarang walet putih serta walet hitam. Rombongan yang dipandu Rahman akhirnya sampai di pintu ke luar pertama, sehingga harus dilanjutkan dengan naik tangga lagi untuk menuju goa peninggalan peradaban purba.
Rombongan kemudian sampai di goa yang luasnya 1 kali setengah lapangan futsal. Di sinilah lokasi peninggalan peradaban purba yang dituju, yakni Goa Beloyot, bagian dari Karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Di dinding dan langit goa ini tampak puluhan lukisan telapak tangan manusia, ada yang polos dengan sekeliling telapak dipenuhi warna merah tua, seperti warna alami tumbuhan, ada juga beberapa gambar telapak tangan dengan motif tutul.
Di sekitar gambar telapak tangan juga ada lukisan menyerupai orang sedang berburu menggunakan tombak, ada lukisan babi, kura-kura, kepiting, makhluk berkaki empat, dan sejumlah lukisan menyerupai satwa yang belum dikenali.
Karst Sangkuliarang-Mangkalihat di Kaltim ini total memiliki 26 situs warisan geologi (geosite). Keberadaannya harus dilindungi, maka dibutuhkan legalitas sebagai taman bumi alias geopark.
Keputusan Menteri ESDM
Sebelumnya telah keluar Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2024, yakni menetapkan sebanyak 26 area di Kaltim sebagai geosite.
Sebanyak 26 titik ini merupakan ekosistem karst terbesar di Pulau Kalimantan dengan luas mencapai 1.867.676 hektare (ha).
Kawasan ini dikenal dengan sebutan kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, mencakup dua wilayah administratif yaitu Kabupaten Berau dengan 15 geosite, kemudian di Kabupaten Kutai Timur dengan 11 geosite.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, saat berkunjung ke Kampung Merabu pada 6 September 2025, menyatakan bahwa geopark ini adalah potensi wisata kebanggaan Kaltim dan Indonesia, sehingga wajib dijaga bersama agar bisa memberikan kesejahteraan ke warga.
Merabu merupakan kampung yang menjadi bermukimnya masyarakat Dayak Lebo. Di kampung ini terdapat dua situs warisan geologi yaitu Gua Beloyot dan Kerucut Karst Merabu.
Gubernur Rudy menjelaskan setelah penetapan sebagai warisan geologi, diperlukan persiapan komprehensif agar pengusulan geopark skala nasional bisa dipenuhi.
Para pihak baik dari Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur harus memiliki pemahaman, kepedulian dan menjadi pelaku utama terhadap pengembangan taman bumi dunia karena telah diusulkan ke UNESCO pada 31 Agustus 2025.
"Karst ini bukan hanya kebanggaan Kutai Timur dan Berau, bukan hanya kebanggaan Provinsi Kaltim, tapi juga kebanggaan Indonesia," ujar Rudy ditemui setelah menandatangani Deklarasi Geopark Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kampung Merabu, pada 6 September itu.
Dia mengatakan penandatanganan ini merupakan dukungan penuh sekaligus upaya percepatan agar usulan kawasan karst tersebut bisa segera ditetapkan menjadi kawasan geopark, baik sebagai Taman Bumi Nasional maupun UNESCO Global Geopark.
"Sekarang masih terus berproses, bahkan proses ini terus didukung secara teknis oleh tim baik pemda maupun Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang fokus pada bidang konservasi, selaku inisiator. Kami ingin secepatnya kawasan ini secepatnya menjadi geopark," kata gubernur.
Pemprov Kaltim mulai proses pengusulan taman bumi (geopark) Karst Sangkulirang-Mangkalihat ini sejak 2019, diawali dari inventarisasi keragaman geologi yang menjadi dasar penetapan kawasan bentang alam Karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Untuk mendukung usulan ini, maka serangkaian kegiatan terus berlangsung setiap tahunnya, sehingga pada 2024 kemudian terbit Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Warisan Geologi.
Sedangkan tahun ini terus didorong agar kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat masuk sebagai usulan taman bumi, taman bumi nasional, dan UNESCO Global Geopark.
Dalam kesempatan itu, Asrani, selaku Kepala Kampung Merabu, mengatakan bahwa kedatangan gubernur ke kampungnya merupakan langkah maju dalam penetapan taman bumi.
Ia juga menyatakan bahwa kedatangan gubernur merupakan sejarah, karena merupakan gubernur yang pertama kali mengunjungi Merabu, sehingga deklarasi ini membawa semangat baru bagi pihaknya dalam menjaga kelestarian ekosistem.
Ke depan, kerja sama antara kampung, YKAN, masyarakat, dan pemda, bisa lebih mengangkat hal-hal positif dari Kampung Merabu dan situs warisan geologi, karena dari hutan kampung seluas 8.245 ha, masih ada ratusan gua yang perlu diekspos.

Begitu pula dengan kebudayaan Dayak Lebo, termasuk destinasi wisata Danau Nyadeng dan puncak Ketepu yang masih sulit diakses karena minimnya infrastruktur, padahal dari puncak Ketepu ini bisa terlihat lanskap gugusan kerucut karst Merabu.
Destinasi wisata
Pemprov Kaltim bersama Pemkab Berau , Kutai Timur, dan dengan dukungan dari YKAN, sejak 2019 memulai proses pengusulan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai taman bumi.
Para pihak melakukan inventarisasi keragaman geologi dan kegiatan pendukung setiap tahun, hingga akhirnya lahir keputusan Menteri ESDM tentang penetapan situs warisan geologi pada 2024.
Sedangkan sebelumnya di tahun 2016, kawasan ini pernah diajukan sebagai calon situs UNESCO Global Geopark. Setidaknya terdapat 12 kawasan di seluruh Indonesia yang diakui secara resmi sebagai Global Geopark oleh UNESCEO, lokasi terdekat dengan Kaltim adalah Taman Bumi Meratus di Kalimantan Selatan.
Manajer Senior YKAN Niel Makinuddin mengatakan, penetapan status taman bumi alias geopark akan dapat memberikan banyak implikasi. Mulai dari pengakuan atas budaya, penyelamatan kawasan karst, destinasi wisata, hingga tempat penelitian.
Bahkan, katanya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut, penetapan status taman bumi setidaknya menjawab persoalan setidaknya 11 hingga 14 tujuan dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan ekowisata di Kampung Merabu, untuk mendukung usulan Geopark Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi Taman Bumi Nasional dan UNESCO Global Geopark.
Diantara bentuk dukungan yang dilakukan seperti telah memasukkan di RPJMD tentang pengembangan wisata di periode ini, bahkan pembuatan rencanaan pembangunan track ke Goa Beloyot sudah selesai, sehingga tahun depan dibangun track tersebut.
Track yang segera dibuat merupakan fasilitas penting yang harus ada karena dari Kampung Merabu ke Goa Beloyot harus melalui jalan berair di banyak titik, yakni dari total sekira 5 kilometer (km) dari Kampung Merabu ke Goa Beloyot, akan ada beberapa titik yang dibangun track atau semacam jembatan dari kayu.
Ketika track jadi pada tahun depan, maka tingkat kunjungan wisatawan baik lokal, nusantara, maupun wisatawan asing diyakini makin tinggi, karena gema Goa Beloyot sudah mendunia, sejak ditemukan jejak peradaban manusia purba di kisaran 1990-an itu.
