Pontianak  (ANTARA News - Kaltim) - Para offroader anggota tim  ekspedisi Indonesian 4X4 Expedition: Kapuas Hulu Border kemarin melakukan penanaman bibit gaharu guna melestarikan pohon langka itu   di Dusun Sadap, Benua Martinus, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
   
Dilaporkan wartawan ANTARA bahwa selain pengobatan, pagi Jumat (18/3) para peserta Indonesian 4X4 Expedition: Kapuas Hulu Border juga melakukan penanaman pohon di perbatasan
Taman Nasional Betung Kerihun, tak jauh dari Dusun Sadap, Benua Martinus, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.   

"Kami menanam 100 bibit pohon gaharu, 50 bibit tengkawang, dan 50 bibit durian," kata Insuhendang, koordinator kegiatan penanaman Ekspedisi.
 
Bibit-bibit tersebut ditanam di perbatasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) serta  juga menyumbangkan bibit-bibit tersebut.
    
"Gaharu memang sangat cocok tumbuh di sini dan memang banyak tumbuh di dalam Taman Nasional," kata Unang Suwarna, Kepala TNBK, saat menerima rombongan di Putussibau.
     
Pohon gaharu pula yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat di Kapuas Hulu, terutama pohon-pohon yang ditanam sendiri dan berada di luar kawasan Taman Nasional.
    
Pengobatan Massal

Sebelumnya, dipimpin dr Silver Purba, para peserta Indonesian 4X4 Expedition: Kapuas Hulu Border menggelar pengobatan gratis di Dusun Sadap, Desa Benua Sadap, Kecamatan Benua Martinus, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
    
Tidak kurang dari 150 pasien diperiksa dokter Purba mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00. Mereka berusia mulai dari bayi 1 bulan hingga nenek 82 tahun.
     
Ada 50 pasien di Sadap yang saya periksa pagi. Kemudian setelah makan siang ada 95 pasien lagi di Mataso, dan malam kembali lagi ke Sadap untuk memeriksa pasien yang tidak sempat diperiksa paginya,” terang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, 1999 ini.
     
Di kedua pemukiman yang berdekatan itu, berbagai penyakit ditemukan dokter Purba.  Mulai dari infeksi saluran pernapasan atas seperti gejala batuk, batuk pilek, nyeri saat menelan, lalu penyaki saluran pernapasan bawah berupa asma, sampai gangguan pembuluh darah berupa darah tinggi atau hipertensi, sakit kepalahebat atau vertigo, sakit kepala sebelah atau migrain, dan pascastroke.

"Pada anak-anak ditemukan infeksi kulit,  gatal-gatal. Tampaknya karena malas mandi. Di sini pagi kan lumayan dingin, hahaha,” kata dokter yang penggiat Atlas Medical Pioneer Unpad tersebut.
      
Dokter masih menyebutkan lagi sejumlah penyakit seperti sakit gigi, rematik, nyeri sendi, nyeri lambung, hingga kekurangan gizi (malnutrisi) pada bayi dan anak-anak.
     
"Saya temukan tidak kurang ada 10 anak, masing-masing di Sadap dan Mataso," kata dokter mengungkapkan.
   
  Mengenai berpraktik di tempat yang jauhnya 100 km lebih dari Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu (750 km timur laut Pontianak) ini, dokter dibantu oleh anggota-anggota Indonesia 4X4 Ekspedisi Hulu Kapuas Border, para ranger (jagawana) Taman Nasional Betung Kerihun, dan warga setempat.
      
Rahardian Mahendra dari Jakarta beserta Wahyu Tamaela dari Bali dan Beben dari Padang, misalnya, membantu dengan menjadi apoteker dadakan. Mereka bersama kru-nya dipercaya dokter Purba mencarikan obat, mengemasnya, dan memberikannya kepada pasien. Bahkan hingga resep yang agak sulit seperti memberikan puyer bagi anak-anak.
     
"Yah, belajar sebentar, bisa juga," kata Rahardi yang juga menjadi peserta paling jangkung dengan tinggi badan 190 cm lebih.



Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026