Samarinda (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menggerakkan tumbuhnya ekosistem pengembangan budaya yang berkelanjutan.
"Di tengah pesatnya pembangunan dan tantangan globalisasi, pelestarian budaya daerah menjadi fondasi penting untuk menjaga jati diri bangsa," kata Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kaltim Armin di Samarinda, Kamis.
Upaya ini, menurut dia, menjadi semakin relevan bagi Kaltim yang berstatus sebagai tuan rumah Ibu Kota Nusantara (IKN), di mana pelestarian budaya lokal menjadi salah satu pilar utama dalam menyangga peradaban baru Indonesia.
Momentum ini diwujudkan oleh Pemerintah Kota Samarinda melalui ajang Samarinda Cultural Fest 2025 yang dipusatkan di Rumah Adat Budaya Daerah, Jalan Kadrie Oening, yang berlangsung pada hari ini.
Armin mengungkapkan, festival tersebut dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan, melainkan sebagai sebuah gerakan kebudayaan yang hidup.
"Gelar Adat Tradisi ini tak sekadar menjadi ajang selebrasi, tapi juga menjadi bentuk nyata penghormatan kita kepada para leluhur, serta upaya untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda," ujarnya.
Dia menyebutkan, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan nilai-nilai budaya tidak hanya tersimpan di museum, tetapi hidup dan relevan bagi generasi penerus. Oleh karena itu, keterlibatan aktif anak-anak muda menjadi kunci utama keberhasilan regenerasi budaya di Benua Etam.
Disdikbud Kaltim, lanjut Armin, mendorong agar festival semacam ini menjadi pemantik terbentuknya sebuah ekosistem kebudayaan yang mapan dan terus berkembang.
Ekosistem yang dimaksud mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan muatan lokal di sekolah, ruang kreatif bagi seniman untuk berkarya dan berinovasi, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.
"Dengan demikian, budaya tidak hanya lestari sebagai warisan, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya," ungkap Armin.
Ajang Samarinda Cultural Fest 2025 digelar hingga 27 Juli ini dibuka untuk umum dan menyuguhkan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk semua kalangan.
Berbagai pameran menampilkan kerajinan tangan khas seperti tenun Dayak Benuaq dan Sarung Samarinda. Selain itu, pengunjung dapat mengikuti lokakarya, eksibisi seni rupa, hingga berbagai lomba yang memacu kreativitas.
Panggung utama setiap harinya diisi oleh pertunjukan teater tradisional dan pagelaran budaya dari berbagai etnis di Nusantara yang telah lama berakulturasi di Kaltim, merefleksikan Samarinda sebagai kota yang majemuk namun tetap berakar pada budayanya.
