Samarinda (ANTARA Kaltim) - Produksi komoditas bukan sawit, antara lain kakao di 2013 cenderung menurun sehingga DPRD Kaltim meminta SKPD terkait, yakni Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim lebih serius menggenjot komoditas ini.
Hal tersebut karena potensi hasil olahan bukan sawit terbilang tinggi, seperti gula kelapa dan aren bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi ketika diolah menjadi brown sugar.
Masalah itu mengemuka saat anggota Komisi II DPRD Kaltim menggelar rapat dengar pendapat dengan Disbun Kaltim, Jumat (12/4) di Gedung DPRD Kaltim, Karang Paci.
"Disbun sebagai wadah yang strategis perlu kita dorong dan bantu berkenaan kemajuan agribisnis di Kaltim ini. Banyak potensi besar selain sawit, kakao jika diolah dengan baik dan dikemas apik nilainya tinggi. Apalagi Arab Saudi banyak memesan hasil olahan komoditas ini," kata ketua Komisi II, H Rusman Ya’qub, pimpinan rapat saat itu.
Politisi dari Fraksi-PPP ini menambahkan perlunya revitalisasi tanaman yang tidak terpatok satu komoditas saja. Pengalaman di Kaltim selama ini para petani terlihat sporadis. Jika satu komoditas laris di pasaran maka bisa dikatakan seluruh petani menggarap tanaman yang sama.
Hal ini perlu dicari solusinya agar tanaman lain yang berpotensi ekonomi tinggi tetap ditanam, untuk meningkatkan pemasaran dan daya saing.
Pada rapat yang dimulai pukul 14.00 Wita ini juga mengemuka masih adanya gangguan usaha berupa beralihnya fungsi lahan dari perkebunan ke pertambangan. Hal ini disebutkan bukan cerita baru namun patut diseriusi oleh pemerintah provinsi maupun daerah, karena berkaitan dengan isu perubahan iklim.
Dengan adanya perkebunan atau pertanian diharapkan meningkatkan penyerapan CO2 yang membantu mengurangi pemanasan global.
"Rapat dengar pendapat ini juga media kita berkoordinasi pasca-Musrenbang tadi. Di sini juga dapat dilihat adanya kebijakan pemerintah provinsi dan daerah yang tidak bersinergi dengan baik," kata Rusman Ya’qub, yang juga menjabat Ketua DPW PPP Kaltim.
Selain potensi hasil olahan kakao, kelapa dan aren, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga mempaparkan sejumlah potensi lainnya seperti pemanfaatan limbah dari kelapa sawit, dan pemanfaatan sampah seperti plastik sebagai energi serta potensi kayu gaharu seperti yang terdapat di Nunukan.
"Laporan dari Badan Penelitian dan Pengembangan beserta Disbun jangan hanya teori belaka. Realisasi dan aksi di lapangan yang kita perlukan. Laporan ini saya nilai sama saja dari tahun sebelumnya. Banyak laporan petani kepada kami masalah tanaman plasma yang tidak berjalan sesuai harapan petani dalam pembagian hasilnya. Ini juga perlu dicarikan solusi," timpal Bahrid Buseng, anggota Komsi II lainnya di sela rapat.
Rapat ini juga dihadiri Wakil Ketua Komisi II, Windy Imelda dan anggota Komisi II, Siti Qomariah. (adv/dit/met/mir)
