Tenggarong, Kaltim (ANTARA) - Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menyatakan Gerakan Etam Mengaji (Gema) merupakan salah satu pilar dari 17 unggulan Program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik, karena bukan sekadar membaca Quran tetapi juga mengimplementasikan isinya.
Ini karena Gema yang diterapkan di instansi pemerintah, kecamatan, desa/kelurahan, dan lembaga bukan sekadar membaca dan menerjemahkan artinya, tapi harus mampu memahami makna dan menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi berakhlak mulia.
"Puncak kemuliaan seseorang adalah ketika mampu mengamalkan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain)," ujar Aulia Rahman di Tenggarong, Kukar, Kalimantan Timur, Senin.
Program Gema, lanjutnya, merupakan salah satu pilar dari 17 Program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik yang bertujuan untuk membentuk akhlakul karimah bagi seluruh masyarakat Kukar sebagai benteng spiritual dalam menghadapi arus budaya modern.
Adapun 17 program itu antara lain Program Makan Bergizi bagi Balita dan Lansia, Biaya Penunjang Sekolah dan Beasiswa, Bantuan Sekolah dan Pondok Pesantren, serta Etam Sejahtera yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan.
Kemudian program Pembangunan Kawasan Ekonomi Sejahtera, Petani Tangguh, Kredit Kukar Idaman, Penguatan Penggiat Seni dan Budaya, Stimulus Komunitas Kreatif, Pelayanan Publik Cerdas, dan Program RT Ku-Terbaik.
Baca juga: Kukar perkuat fondasi pembangunan lewat Safari Ramadhan
Sebelumnya, pada peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah di Masjid Agung Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Tenggarong, Minggu (8/3) malam, ia juga mengatakan bahwa Quran mengajak umat untuk saling menghormati sesama dan selalu berbuat kebaikan, sehingga hal ini harus dipedomani.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya memaknai Nuzulul Quran sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai momentum untuk meneladani nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Nuzulul Quran, lanjut ia, merupakan tradisi mulia yang harus selalu dijaga. Al Quran diturunkan sebagai lentera bagi umat manusia untuk membangun peradaban yang unggul, berlandaskan iman dan ilmu pengetahuan.
Hal ini sejalan dengan wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq, yang memerintahkan untuk membaca. Makna membaca bukan sekadar membaca teks, tapi membaca situasi, kondisi, membaca alam, dan lainnya untuk meningkatkan kecerdasan.
"Melalui makna membaca, hal ini tentu menjadi isyarat kuat bahwa umat Islam harus memiliki keimanan yang kokoh dan harus terus meningkatkan kemampuan sesuai bidang masing-masing, karena pengetahuan terus berkembang," ujar bupati.
Baca juga: Kukar ajak swasta salurkan zakat untuk entaskan kemiskinan
