Penajam Paser Utara (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur menggunakan pemeriksaan nonstruktural protein-1 (NS1) guna mencegah kematian akibat gigitan nyamuk aedes aegypti pembawa penyakit demam berdarah dengue atau DBD.
"Alat pemeriksaan NS1 untuk mengetahui infeksi DBD sejak awal, upaya deteksi dini ditingkatkan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara Jansje Grace Makisurat di Penajam, Minggu.
Mendeteksi dini DBD dengan alat NS1 tersebut, lanjut dia, agar pasien bisa segera ditangani dan diharapkan tidak sampai terjadi kematian.
Tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara pada 2024 terdapat dua kasus kematian, dan pada 2025 terjadi tiga kasus kematian akibat terinfeksi virus dengue.
Upaya preventif lainnya yang dilakukan
seperti gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras, menutup dan mendaur ulang tempat penampungan air (3M), serta pemantauan jentik.
Baca juga: Warga Kaltim perlu rutin berantas sarang nyamuk, cegah DBD
Kemudian juga melakukan pengasapan menggunakan insektisida dan membagikan Abate untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk yang menjadi perantara penularan virus dengue.
Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat penderita DBD yang terdata pada awal 2026 hingga saat ini sebanyak 25 orang, sedangkan sepanjang 2025 tercatat 348 orang warga terserang DBD.
Penyakit ini diwaspadai terutama saat kondisi iklim pancaroba adalah demam berdarah. Jika penanganan terlambat akan membahayakan jiwa. Serangan penyakit ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang bisa muncul sepanjang waktu, kapan saja, dan di mana saja.
Masyarakat juga harus memperhatikan gejala DBD. Jika ada gejala demam tinggi segera melakukan pemeriksaan kesehatan di pusat layanan kesehatan terdekat, demikian Jansje Grace Makisurat.
Baca juga: Kabupaten Penajam gotong-royong berantas jentik nyamuk penebar DBD
Pewarta: Nyaman Bagus PurwaniawanEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026