Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 63 poin atau 0,37 persen menjadi Rp16.886 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.949 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ruang penguatan rupiah masih sempit seiring pasar akan sangat sensitif terhadap berita baru dari Timur Tengah dan arah harga minyak.
"Untuk perdagangan hari ini, rupiah masih cenderung bergerak dalam tekanan, tetapi pelemahannya diperkirakan dalam kisaran Rp16.825 sampai Rp16.975 per dolar AS. Level Rp17 ribu per dolar AS sekarang menjadi ambang penting, karena sejumlah proyeksi pasar juga menempatkan level itu sebagai batas tekanan terdekat bila sentimen belum membaik," ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Dia menerangkan sentimen global saat ini masih menjadi penekan utama bagi rupiah.
Konflik di Timur Tengah atau Asia Barat membuat harga minyak melonjak tajam, hingga sempat menyentuh di atas 115 dolar AS per barel dalam sesi Asia dan kembali menembus 100 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026).
Dalam kondisi ini, dolar AS menguat karena dipandang paling aman ketika ketidakpastian meningkat dan pasar mulai mengurangi perkiraan penurunan suku bunga bank sentral AS.
Di kawasan Asia, lanjutnya, pola yang terlihat juga seragam, yaitu mata uang kawasan melemah karena harga minyak lebih tinggi, dolar AS lebih kuat, dan kehati-hatian pelaku pasar meningkat.
Baca juga: Rupiah tembus Rp17 ribu/dolar AS, terseret lonjakan harga minyak dunia
Baca juga: Rupiah jadi Rp16.900 per dolar AS, BI gerak cepat
Pewarta: M Baqir Idrus AlatasEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026