Balikpapan (ANTARA) - Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang Pertamina di Balikpapan tidak hanya meningkatkan kapasitas pengolahan dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari, tetapi juga memproduksi bahan bakar minyak (BBM) berkualitas setara standar Euro V yang lebih ramah lingkungan.
“Unit hasil proyek RDMP Balikpapan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga ramah lingkungan dan adaptif terhadap masa depan,” kata Pejabat Sementara Sekretaris Perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Milla Suciyani, Rabu (10/12).
Dia menyebutkan Standar Euro V merupakan regulasi emisi kendaraan bermotor yang diterapkan Uni Eropa sejak 2009. Bahan bakar dengan standar ini memiliki kadar sulfur maksimal 50 part per million (ppm), sehingga gas buang kendaraan lebih bersih dan menekan polutan berbahaya. Lebih sedikit sulfur berarti gas buang kendaraan lebih bersih, mesin lebih awet.
“Indonesia tidak ketinggalan turut menciptakan bumi yang lebih baik dan lebih bersih,” kata Milla.
Dia menjelaskan, sulfur tinggi dalam bahan bakar menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan kesehatan. Saat BBM dengan kandungan sulfur dibakar, terbentuk senyawa sulfur oksida (SOx) seperti sulfur dioksida (SO) dan sulfur trioksida (SO) yang berkontribusi pada hujan asam serta memperburuk kualitas udara. Paparan SO juga dapat menyebabkan iritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan. WHO mencatat peningkatan risiko asma, penyakit paru, hingga kerusakan jantung akibat polusi sulfur.
Selain itu, sulfur berdampak langsung pada teknologi kendaraan dan umur mesin. Kandungan tinggi sulfur merusak perangkat after-treatment seperti catalytic converter dan diesel particulate filter (DPF), sehingga emisi kendaraan meningkat jauh di atas ambang batas standar. Mesin diesel modern yang bekerja dengan tekanan tinggi juga sangat sensitif terhadap kualitas BBM; sulfur mempercepat degradasi komponen, membuat umur pakai mesin lebih pendek.
Karena itu BBM rendah sulfur dihasilkan dari berbagai teknologi terbaru pengolahan yang dipasang di kilang, termasuk unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini mampu mengolah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti gasoline, propylene, dan elpiji, sekaligus menghasilkan BBM setara Euro V.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan tren global transisi energi rendah emisi. Laporan World Economic Forum 2025 mencatat percepatan transisi energi di 65 persen negara, dengan investasi energi bersih mencapai USD 2 triliun. Uni Eropa bahkan akan memberlakukan mekanisme penyesuaian karbon perbatasan (CBAM) mulai Januari 2026, yang menuntut produk ekspor bebas dari jejak emisi tinggi.
Milla mengemukakan, proyek RDMP menghabiskan investasi hingga USD 7,4 miliar atau sekitar Rp126 triliun, dan sebagai gantinya mendapatkan infrastruktur energi nasional yang kuat, menciptakan energi yang lebih bersih, selain juga menjadi satu proyek strategis Pertamina untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Dalam pembangunannya, kilang RDMP Balikpapan juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 35 persen. Target ini mendorong pertumbuhan industri pendukung seperti manufaktur baja, logistik, konstruksi, dan jasa teknik, sehingga manfaat proyek meluas ke berbagai sektor.
"Proyek dimulai secara bertahap sejak 2017 menyerap hingga 24 ribu tenaga kerja pada puncak masa konstruksi di 2024. Kehadiran ribuan pekerja turut mendorong pertumbuhan ekonomi Balikpapan dan sekitarnya, memberi ruang usaha bagi UMKM penyedia makanan, transportasi, dan akomodasi," kata Milla.
Kilang RDMP Balikpapan produksi BBM Standar Euro V
Rabu, 10 Desember 2025 18:34 WIB
Kilang Balikpapan yang dibangun lewat Proyek RDMP, menghasilkan produk lebih banyak dan lebih ramah lingkungan. (ANTARA/HO-KPI)
Unit hasil proyek RDMP Balikpapan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga ramah lingkungan dan adaptif terhadap masa depan
