Balikpapan (ANTARA) - Proyek peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan yang mengubah Kilang dari fasilitas lama menjadi kompleks pengolahan yang lebih modern telah menghabiskan anggaran sebesar Rp123 triliun atau USD74 miliar. Proyek RDMP alias Refinery Development Master Plan telah selesai dikerjakan selama enam tahun.
“RDMP Balikpapan ini bukan hanya menambah kapasitas olah, tapi mengubah cara kilang bekerja. Dengan modernisasi, kilang menjadi lebih fleksibel, lebih efisien, dan mampu mengolah crude dengan karakteristik yang lebih beragam,” kata Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, di Balikpapan, Senin.
Ia mengatakan, perubahan paling besar ada pada prosesnya. RDMP menambah kapasitas olah dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari. Unit-unit proses baru membuat alur produksi berubah total. Kilang sekarang bisa menghasilkan BBM dengan kualitas lebih tinggi dan lebih bersih, serta memproses minyak mentah dengan karakteristik yang lebih beragam.
"Unit yang paling menentukan adalah Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Sebelum RDMP, residu berat dari kilang tidak bisa dimanfaatkan optimal. Dengan RFCC, residu itu bisa dipecah menjadi produk bernilai lebih tinggi seperti gasoline dan LPG," katanya.
Direktur PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Bambang Harimurti, menyebut RFCC sebagai unit yang mengubah struktur produksi kilang karena meningkatkan yield produk bernilai tinggi.
RFCC juga menjadi bagian proyek yang paling banyak menghadapi tantangan. Dalam pemberitaan publik disebutkan bahwa pada satu fase, hubungan dengan kontraktor asing sempat memanas karena persoalan biaya dan pembayaran. Situasinya cukup serius sampai muncul opsi penyelesaian melalui arbitrase internasional.
Menurutnya, kondisi itu membuat pekerjaan RFCC berjalan tidak stabil dan berpotensi menghambat keseluruhan proyek, mengingat unit ini adalah komponen paling kompleks dalam RDMP. Baru setelah ada intervensi dari pemerintah dan penataan ulang manajemen proyek, pekerjaan RFCC kembali normal dan bisa diselesaikan.
"Crude Distillation Unit (CDU) juga direvitalisasi. Unit-unit pendukung seperti hydrotreater, reformer, dan sulfur recovery ikut ditingkatkan. Hasilnya, kilang bisa menghasilkan BBM setara standar Euro V," ucapnya.
Lanjutnya, Nelson Complexity Index (NCI) kilang naik dari 3,7 menjadi 8,0. Angka ini menunjukkan peningkatan kemampuan kilang dalam mengolah crude yang lebih variatif dan menghasilkan produk yang lebih bernilai.
Wakil Presiden Bidang Humas Pertamina, Muhammad Baron, menyebut kenaikan NCI ini sebagai indikator utama modernisasi RDMP.
"Di luar pagar kilang, proyek ini juga membangun fasilitas pendukung seperti SPM Lawe-Lawe yang kini bisa menerima kapal hingga 320.000 DWT, dua tangki crude berkapasitas 1 juta barel, serta pipa gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 km. Infrastruktur ini memperkuat pasokan energi untuk operasi kilang," katanya.
Pembangunan pipa gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 km juga meninggalkan catatan tersendiri bagi warga. Karena jalurnya mengikuti beberapa ruas jalan utama, pekerjaan galian tidak terhindarkan mengganggu arus lalu lintas. Pada beberapa titik, galian pipa bersinggungan dengan utilitas lain yang sudah lebih dulu ditanam, sehingga penataannya memakan waktu dan membuat kondisi jalan tidak stabil selama periode konstruksi. Situasi itu membuat pekerjaan pipa menjadi salah satu fase yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat.
Muhammad Baron menjelaskan, pekerjaan RDMP berlangsung selama enam tahun. Tahap awal mencakup 16 paket pekerjaan seperti pembebasan lahan, pemindahan fasilitas lama, dan pembangunan utilitas dasar. Tantangan terbesar adalah menjaga operasi kilang tetap berjalan selama konstruksi.
Seperti diketahui proyek RDMP Balikpapan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerjanya ke Balikpapan. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa modernisasi kilang merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
"RDMP Balikpapan sebagai tonggak baru dalam peningkatan kapasitas dan kualitas pengolahan minyak di Indonesia," kata Prabowo Subianto.
Ia menuturkan dengan kapasitas dan kompleksitas yang meningkat, Kilang Balikpapan kini menjadi salah satu kilang paling modern di Indonesia. Modernisasi ini menempatkan Kilang Balikpapan sebagai tulang punggung pasokan BBM di kawasan timur Indonesia, sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam jaringan energi nasional. RDMP Balikpapan juga menandai perubahan besar pada kemampuan pengolahan minyak di Indonesia, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan fleksibilitas pengolahan crude.
