Samarinda (ANTARA) - Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Khusus (SKh) se-Kalimantan Timur berembuk memperkuat sinergi dan mutu pendidikan inklusif.
"Kolaborasi antar-sekolah itu penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung kemandirian anak berkebutuhan khusus," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim Armin saat Pertemuan MKKS SLB/SKh Se-Kaltim dirangkai dengan upacara Hari Pramuka bersama ratusan siswa berkebutuhan khusus di Samarinda, Kamis.
Kegiatan yang dipusatkan di SLB Negeri Pembina di Jalan Padat Karya, Samarinda, ini menjadi ajang konsolidasi bagi 34 kepala SLB/SKh dari seluruh kabupaten/kota di Kaltim.
Ia menjelaskan kehadiran seluruh kepala sekolah dalam forum ini langkah strategis menyamakan persepsi dan merumuskan langkah-langkah konkret demi peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dalam rapat koordinasi, dibahas sejumlah agenda penting, termasuk sosialisasi Lomba Prestasi Siswa (LPS1) bidang tanaman hortikultura. Selain itu, disampaikan pula kebijakan-kebijakan terbaru dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim yang relevan dengan pengelolaan SLB/SKh.
"Diskusi mendalam juga dilakukan untuk mencari solusi atas berbagai tantangan dalam proses pembelajaran siswa berkebutuhan khusus," ujarnya.
Secara paralel, digelar pula Perkemahan Persahabatan Anak Berkebutuhan Khusus yang diikuti sekitar 300 peserta didik.
Dengan mengusung tema “Menoreh Prestasi dan Karya untuk Kemandirian dalam Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu”, perkemahan tersebut dirancang sebagai wadah bagi para siswa untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan keterampilan hidup.
Rangkaian acara perkemahan diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif. Pada malam hari, para peserta mengikuti prosesi Ulang Janji Pramuka yang khidmat, dilanjutkan dengan penyalaan api unggun yang hangat dan pentas seni.
Setiap perwakilan SLB/SKh menampilkan karya dan bakat terbaik mereka, menciptakan suasana kebersamaan yang erat.
Untuk menunjang kemandirian, para siswa juga mendapatkan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tanaman Hortikultura. Dalam sesi itu, mereka belajar secara praktis mulai dari teknik pembuatan media tanam yang subur, cara merawat tanaman, hingga proses panen dan pengolahan sederhana hasil kebun.
Koordinator Perkemahan Persahabatan, Margono, menjelaskan seluruh rangkaian acara bertujuan membentuk karakter dan kemandirian siswa secara holistik.
Ia menyebutkan adanya penerapan pola hidup yang terstruktur selama perkemahan.
“Anak-anak kami latih untuk menerapkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yaitu bangun cepat, berdoa, berolahraga, makan bergizi, bermasyarakat, belajar, dan tidur cepat. Ini adalah fondasi untuk membentuk pola hidup yang sehat dan produktif sejak dini,” katanya.
