Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mematangkan langkah strategis dalam mengoptimalkan lahan bekas Bandara Temindung Samarinda yang diproyeksikan menjadi pusat pelayanan publik terpadu dan pusat ekonomi kreatif.
Sekretaris Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Kaltim, Adji Yudhistira, di Samarinda, Selasa, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan ini telah dirancang secara komprehensif oleh Dinas PUPR Kaltim sejak tahun 2024.
“Optimalisasi aset ini diharapkan mampu mendorong peningkatan PAD sekaligus menciptakan ruang baru bagi aktivitas pemerintahan serta pengembangan ekonomi kreatif di Samarinda,” ujar Adji Yudhistira.
Ia menjelaskan rencana besar ini mencakup pembangunan kompleks perkantoran modern yang akan menampung berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim, yang dijadwalkan mulai menempati lokasi baru ini pada tahun 2028.
Aji menegaskan integrasi infrastruktur pemerintahan ini bertujuan untuk memudahkan akses masyarakat dalam mendapatkan pelayanan publik di satu kawasan yang representatif.
Langkah ini juga mendapat dukungan penuh dari Komisi II DPRD Provinsi Kaltim sebagai bagian dari pemanfaatan aset daerah yang produktif dan berkelanjutan.
Selain urusan birokrasi, gedung eks bandara kini telah bertransformasi menjadi Temindung Creative Hub (TCHub). Fasilitas ini didedikasikan bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di bidang film, musik, dan seni lainnya.
Untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal, Pemprov Kaltim bertindak tegas dengan menertibkan lapak liar dan bangunan tanpa izin di area tersebut.
Pengelolaan aset yang transparan dan akuntabel ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov dalam memperkuat tata kelola pemerintahan, sekaligus memenuhi indikator Monitoring, Controlling, Surveillance for Prevention (MCSP) dari KPK.
Kilas Balik Sejarah
Bandara Temindung memiliki nilai sejarah panjang bagi warga Samarinda sejak diresmikan pada 24 Juli 1974.
Setelah puluhan tahun melayani penerbangan domestik, seluruh aktivitas operasionalnya resmi dipindahkan ke Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto pada Mei 2018.
Kini, melalui sentuhan inovasi, eks Bandara Temindung bersiap memulai babak baru sebagai mesin penggerak ekonomi dan pelayanan publik di Kalimantan Timur.
