Samarinda (ANTARA) - Matahari hampir di atas ubun-ubun saat rombongan Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) dan sejumlah wartawan sampai di depan rumah produksi batik Putri Maluang, akhir Juli 2025.
Cuaca saat itu begitu terik, membuat siapapun yang ke luar dari mobil segera menuju teras maupun langsung masuk rumah produksi batik, sambil menunggu rombongan yang belum semua sampai.
Rumah produksi batik ini terletak di Kampung Maluang, Jalan Poros Tanjung Batu, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kaltim.
Rumah batik ini milik Putri Arofah (41 tahun), ibu dari dua putri yang kini sudah remaja dan dewasa. Arofah begitu antusias menjelaskan kepada wartawan tentang sejarah berdirinya batik yang kemudian ia namakan Batik Putri Maluang.
Ia mulai belajar membatik bersama sejumlah perempuan lain saat dilakukan pelatihan membatik tahun 2019 di desa yang ia huni saat ini. Kemudian ia melanjutkan memperdalam melalui Youtube.
Upaya mendalami batik lewat internet ini dilakukan saat pandemi COVID-19 di akhir 2020, yakni saat itu ia bersama suami dan kedua putrinya semua dinyatakan positif COVID-19.
Saat pandemi tersebut tentu semua keluarga tidak bisa ke luar rumah, terlebih saat itu dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).
Mereka merasa suntuk karena hanya berdiam di rumah. Sampai kemudian ia melihat ada beberapa sisa kain dan perlengkapannya hasil pelatihan membatik yang ia ikuti sebelumnya, kemudian ia mengajak dua putrinya untuk membatik sambil memperdalam melalui Youtube.
Hasil dari kreativitas tangan itu kemudian ia unggah di media sosial (medsos) milik anaknya untuk dijual, namun berkali-kali diunggah, tidak ada juga yang memesan, mungkin saat itu semua juga sedang kesulitan keuangan karena masih masa pandemi.
Meski tidak laku, namun ia tidak putus asa. Sampai kemudian ia membulatkan tekat menggadaikan cincin kawinnya senilai Rp3 juta untuk modal membeli kain dan bahan membatik. Sedangkan sejumlah peralatan membatik sudah ada di rumah hasil pelatihan lalu.
Putri Arofah membeli kain dan bahan membatik secara daring, dipesan langsung dari Solo. Setelah yang dipesan sampai, ia pun melanjutkan membatik lagi, bahkan makin mendalami.
Tak khawatir tidak laku, ia kembali menjajakan produknya lewat medsos. Kali ini berhasil, sehingga ia makin semangat membatik, diunggah lagi, terjual, produksi lagi, laku lagi, begitu seterusnya, bahkan pemesanan dalam jumlah banyak pun terjadi.
Atas keuletan tersebut, ia kemudian mendapat bantuan dari BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp8 juta, sehingga hal ini mampu memperkuat ia untuk menambah perlengkapan membatik, sehingga usaha yang ia tekuni makin tumbuh.
Goresan cinta
Batik yang ia produksi ada lima jenis yakni batik tulis, batik cap, batik caplis (cap dan tulis), batik lukis, serta batik print. Selain batik print yang diproduksi di Yogyakarta, empat jenis batik tersebut diproduksi di Batik Putri Meluang Berau, miliknya.
Dari yang awalnya dikerjakan oleh Putri Arofah bersama dua putrinya, kini ia telah mampu merekrut 10 tenaga kerja yang sebagian besar adalah perempuan dengan banyak anak, karena ia memiliki niat sambil membantu keluarga kurang mampu.
Tiap pekerja memiliki tugas masing-masing, mulai dari proses produksi hingga pengemasan. Sedangkan untuk model dan corak batik, bahkan hingga pola goresan, kebayakan berasal dari inspirasi darinya.
"Hampir semua model, corak, hingga alur goresan batik ini berasal dari saya, goresan yang menggambarkan kecintaan terhadap produk untuk memuaskan konsumen. Itulah sebabnya batik ini saya sebut Goresan Cinta Putri Maluang," kata Arofah.
Berkat goresan cinta ini, maka setiap lembar batik yang diproduksi di Rumah Batik Putri Maluang memiliki goresan berbeda, karena setiap kali goresan yang dilakukan menggambarkan suasana hati.
Ia menyatakan bahwa batik yang bagus tidak harus menggambarkan suasana hati sedang bahagia maupun cinta, namun suasana hati sedang galau atau sedih pun bisa membuat goresan batik cantik, karena perasaan kecewa yang dilampiaskan pada kain dalam bentuk batik pun bisa menjadi indah.
Ia kemudian menunjukkan salah satu batik yang ia gores saat galau, yakni batik bergambar dua penyu (penyu khas Berau) yang sedang berdua, kemudian berpisah dengan latar berbagai alam wisata bahari.
Menuturkan bahwa batik penyu ini terinspirasi dari perasaan yang mencuat saat itu, yakni ketika ia jalan-jalan dan ketemu mantan sehingga saat itu perasaannya menjadi berkecamuk.
Namun ia menyadari bahwa perpisahan harus terjadi karena hal itu merupakan jalan yang terbaik, sehingga penyu yang ia gambar dalam kain batik kemudian penyu tersebut mencari kehidupan sendiri, lantas penyu itu menemukan kehidupan dan berkembang.
Berbagai goresan cinta yang tertuang dalam batik ini bervariasi, ada goresan dengan alur sungai, alur daun, dan lainnya. Ia menilai berbagai alir tersebut jika dituangkan dalam karya seni batik, tentu memiliki keindahan, termasuk alur sungai yang bukan hanya indah, tapi sungai juga menjadi sumber kehidupan.
Pelatihan oleh BI Kaltim
Meski batik yang ia produksi terus terjual, ia belum puas dengan apa yang diperoleh, sampai kemudian pada 2021 ia melihat ada pelatihan yang digelar oleh BI Kaltim dengan pendaftaran secara daring, sehingga ia memutuskan daftar dan beruntung Arofah diterima menjadi salah seorang peserta pelatihan.
"Banyak hal yang diajarkan dalam pelatihan oleh BI Kaltim waktu itu, mulai dari sistem pewarnaan, digital marketing, batik untuk fesyen kalangan menengah ke atas. Semua ilmu yang pelajari waktu itu, sampai kini terus saya terapkan, bahkan saya kembangkan," ujar ia.
Arofah pun mengaku jika ke depan ada lagi pelatihan oleh BI Kaltim, maka ia akan ikut lagi, karena yang diincar adalah ilmunya.
Hal ini tentu menjadi alasan tersendiri bagi dirinya, karena baru ikut pelatihan sekali saja oleh Bank Indonesia, ia sudah mampu mengembangkan usahanya, sehingga jika ikut pelatihan lagi, bisa jadi makin banyak ilmu yang ia kuasai.
Saat ini, rumah produksi Batik Maluang mampu menghasilkan omset antara Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulan dengan produksi batik antara 400-700 lembar per bulan, sementara harga yang dipatok antara Rp250 ribu hingga Rp700 ribu per lembar.
Berkat goresan cinta dari rumah produksi Batik Maluang, kinin ama Kabupaten Berau bukan hanya dikenal secara nasional, tapi juga di pentas internasional, karena Batik Maluang sudah dijual ke beberapa negara seperti Malaysia dan, London, Inggris.
Dalam kesempatan itu, Kepala Perwakilan BI Kaltim Budi Widihartanto mengatakan, Putri Arofah merupakan salah seorang contoh sukses dari binaan BI karena memiliki pola pikir untuk terus tumbuh dan berkembang yang diimbangi dengan komitmen dan disiplin diri.
"Kunci sukses UMKM bukan hanya modal, tapi yang terpenting adalah pola pikir dan komitmen. Bu Putri Arofah memiliki semangat untuk terus belajar dan berubah, kemudian mengembangkan dari hasil pelatihan, itu yang membuatnya berhasil," kata Budi.
Menurut Budi, program BI tak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan dan strategi dalam menghadapi segmen pasar, dari kalangan bawah, menengah, hingga premium.
Pelatihan tersebut terus dilakukan secara berkala setiap tahun dan sampai sekarang. Setiap pelatihan yang dilakukan oleh BI Kaltim, antara lain untuk mencetak jiwa pengusaha dan untuk menjadikan UMKM naik kelas atau bisa melakukan ekspor.
