Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur memperkuat strategi dan sinergi lintas sektor dalam upaya eliminasi kanker leher rahim (serviks) melalui perluasan cakupan imunisasi Human Papillomavirus (HPV).
"Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan di Indonesia, dengan 101 kasus baru dan 57 kematian setiap harinya," kata Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin dalam Sosialisasi dan Persiapan Operasional Pelaksanaan Imunisasi HPV Tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di Samarinda pada Selasa.
Jaya menyoroti fakta hampir seluruh kasus kanker leher rahim 99 persen disebabkan oleh infeksi HPV, terutama tipe 16 dan 18, yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual pada perempuan usia subur.
"Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia Tahun 2023-2030, dimana imunisasi HPV menjadi prioritas utama dan dilaksanakan secara bertahap," ujar Jaya Mualimin.
Ia menambahkan RAN menargetkan 90 persen anak perempuan dan laki-laki mendapatkan imunisasi HPV pada usia 15 tahun pada tahun 2030.
Meskipun Kaltim belum termasuk dalam sembilan provinsi yang memulai imunisasi kejar HPV untuk anak perempuan usia 15 tahun (siswi kelas III SMP/MTs/sederajat) secara bertahap sejak 2024, pemerintah provinsi telah memperkenalkan imunisasi HPV sejak tahun 2023 dengan sasaran siswi kelas V dan VI atau anak perempuan berusia 11 dan 12 tahun.
Melalui perluasan sasaran imunisasi HPV hingga usia 15 tahun yang kini termasuk dalam program nasional berdasarkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/35/2025, ia menekankan pentingnya advokasi dan sosialisasi lintas program dan lintas sektor.
"Diperlukan dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama wilayah Provinsi Kaltim, Dinas Kominfo, dan instansi terkait lainnya untuk mengimplementasikan imunisasi HPV, termasuk imunisasi kejar untuk sasaran 15 tahun," jelasnya.
