Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur menerapkan inovasi pemeriksaan untuk mendeteksi gejala kanker serviks pada perempuan dengan menggunakan metode deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat (DNA) pada urine pasien.

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Setyo Budi Basuki di Samarinda, Jumat, menjelaskan tes kanker serviks dengan metode urine merupakan hal yang baru, oleh karena itu perlu koordinasi dan sosialisasi dan segera mendapatkan dukungan dari kementerian kesehatan.

"Prevalensi kanker menurut Riskesdas tahun 2018 sebesar 1,4 persen," ungkap Basuki dalam dialog inovasi deteksi dini kanker serviks di Samarinda.

Ia mengungkapkan kanker serviks menempati peringkat kedua tertinggi dalam hal angka kematian di Indonesia, karena kurangnya deteksi dini atau keengganan untuk melakukan skrining sehingga penyakit ini sering terdeteksi saat sudah dalam tahap lanjut.

Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian akibat kanker serviks adalah kurangnya cakupan pemeriksaan yang menggunakan metode konvensional, yaitu dengan cara membuka kelamin perempuan dan menggunakan alat cocor bebek untuk mengambil sampel cairan dari leher rahim.

Tes urine ini dianggap lebih mudah dan praktis, hanya memerlukan sampel urine yang diambil dengan cara buang air kecil ke dalam botol yang disediakan. Sampel tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium.

Dengan adanya tes urine ini, diharapkan dapat meningkatkan upaya pencegahan dan mengurangi angka kematian akibat kanker serviks.

Mencapai eliminasi kanker serviks pada tahun 2030, diperlukan upaya kolaboratif, termasuk vaksinasi HPV pada 90 persen anak perempuan usia 11-12 tahun, serta pemeriksaan skrining oleh 70 persen wanita di atas usia 40 tahun dan pengobatan bagi 90 persen orang yang terdeteksi mengidap penyakit ini.
 

Pewarta: Arumanto

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2024