Inilah kehidupan yang paling getir dirasakan Wagiyo selama hidup, Marsinah, isteri tercinta yang baru dinikahinya dua bulan, menjadi korban.
Dulu, waktu ia tinggal di Jawa, di kampungnya tak ada sungai. Ada, tapi hanya celah di antara dua bukit yang dialiri air paling tinggi sebatas lutut.
Biasanya rata-rata sebatas mata kaki. Karena itu, untuk menyeberang tak perlu ada jembatan. Sepeda motor bisa melintas di permukaan air yang jernih di atas kerikil dan bebatuan.
Mengapa Tuhan harus menciptakan sungai Mahakam? Sungai ini lebar dan terpanjang di Indonesia. Apakah Tuhan memang ingin mempersulit hamba-hambanya mengarungi kehidupan?
Sungai Mahakam yang bermuara di selat Makassar ini memiliki panjang 920 km. Melintasi wilayah kabupaten Kutai Barat di bagian ulu, hingga Kutai Kertanegara dan Samarinda. Ia memilki banyak anak sungai, seperti sungai Belayan, Kedang Pahu, Kedang Kepala, Telen, Tenggarong dan Karang Mumus.
Di sepanjang sungai dan anak sungai ini dijumpai tiga kota : Samarinda, Tenggarong, dan Melak Kabupaten Kutai Barat. Kecamatan dan kampung juga tersebar di aliran sungai ini. Di sinilah ratusan ribu penduduk Kaltim bermukim.
Mahakam memiliki nilai ekologis penting karena 147 spesies ikan asli Mahakam telah teridentifikasi. Mahakam juga merupakan habitat lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris) atau pesut yang terancam punah, karena itu dimasukkan dalam Appendix I Cites (Convention on Internasional Trade in Endangered Species of Wild fauna and Flora).
Daerah aliran Mahakam merupakan habitat 298 spesies burung, 70 di antaranya dilindungi dan lima spesies endemic : Borneo Dusky Mannikin, Borneo Whistler, Borneo Peacock-pheasant, Borneo Blue-flycatcher dan Bornean bristlehead.
Terdapat 76 danau di daerah aliran sungai Mahakam, 30 di bagian tengah dengan tiga danau utamanya : Jempang 13 ribu ha, Semayang, dan Melintang sama-sama 11 ribu ha.
Ada empat jembatan yang melintang di atas sungai Mahakam. Jembatan Mahakam (1987), jembatan Mahakam Ulu (2008) dan jembatan Mahakam Kota yang dibangun sebelum jembatan Mahakam Ulu tapi hingga kini belum rampung. Ketiganya di wilayah Samarinda.
Dua jembatan lagi di Kutai Kertanegara yaitu jembatan Kutai Kartanegara dan Jembatan Martadipura tapi belum berfungsi karena belum selesai jalan pendekatnya.
Habis akal Muhaji dan Bardi untuk membujuk Wagiyo agar menerima kenyataan terhadap musibah yang menimpa isterinya : korban runtuhnya jembatan Kutai Kartenegara. Marsinah hanyalah satu di antara puluhan korban yang meninggal dunia.
"Dia memang bukan satu-satunya korban. Tapi, dia satu-satunya isteriku," kata Wagiyo yang masih belum "tulus" atas kepergian isterinya. Ketidaktulusan itu merembet ke aktivitas hidupnya.
Ia menjadi pemalas bekerja. Termasuk sudah mulai tidak kelihatan "berjamaah" di mesjid kampungnya.
Maka, tinggalah Muhaji dan Badri setelah Wagiyo sudah lima belas subuh tidak bersama mereka. Seperti biasa, usai sholat subuh, Muhaji dan Bardi pulang bersama.
Udara dingin masih menyergap tubuh mereka. Sudah dua malam kampung di tepi sungai ini dilanda hujan. Hujan ketiga kali di hari keenam Desember.
Hujan yang dicurahkan Tuhan sejak tengah malam baru berhenti sesaat sebelum azan. Akibatnya sudah bisa ditebak. Genangan air setinggi mata kaki bertebaran di mana-mana. Kalau tak awas, sarung yang baru sekali digunakan sholat harus dicuci lagi, padahal itulah satu-satunya sarung mereka.
Subuh hari ini, mereka tidak ke warung julak Ijai. Serba kebetulan memang. Julak ijai sudah 3 hari sakit. Sakit orang kaya, "jantungan". Entah bagaimana mulanya, penyakit jantung dicap sebagai penyakit orang kaya, seperti juga stroke, gagal ginjal, dan prostat.
Bagi Muhaji dan Bardi, orang macam dia hanya boleh diserang flu, batuk, demam, encok, bekorengan, dan muntaber. Bukan apa-apa alasannya. Kalau orang miskin semacam mereka, terkena jantung, stroke, gagal ginjal, dan prostat, pasti tinggal nama karena tak sanggup membayar pengobatannya.
Muntah berak alias muntaber menurut Muhaji berasal dari sungai. Sungai adalah sumber air untuk minum, cuci, dan kakus (MCK). Fungsinya sebagai tempat buat hajat itulah yang menjadi penyebab mengapa muntaber mudah menyerang.
"Tapi kamu tak mungkin menghindari sungai. Rumah kontrakan di pinggir sungai. Tempat kamu beranak-pinak sangat bergantung pada sungai. Bukankah kayu bakar untuk memasak kamu peroleh dari sungai, Ikan-ikan kecil yang kamu goreng juga dari sungai. Air minum setelah kau endapkan semalam juga dari sungai," kata Muhaji pada Bardi.
Dua minggu lalu Bardi memang terserang muntaber. Semalam suntuk ia tak bisa tidur. Selain muntah-muntah --sampai muntah kuning-- ia juga berak-berak. Sepanjang malam perutnya terus melilit.
Ia menyumpah, mengapa pipa PDAM tidak sampai ke kampungnya sehingga ia harus minum air sungai.
Bardi memang pernah mendapatkan ceramah di kelurahan tentang berbahayanya mengonsumsi air kotor dan tidak layak minum. Air sungai Mahakam ini sudah kotor.
"Semua berak di sini! Dulu perusahaan plywood. Sekarang perusahaan kelapa sawit dan batu bara! Mereka dapat duit. Kita dapat apa? Dapat muntah dan berak!," kata Bardi bersungut-sungut sambil menahan sakit perutnya.
Bardi harus menerima keniscayaan hidup di bantaran sungai. Miskin dan tak ada air bersih. Akan tetapi, ia tak punya pilihan. Ia tidak bisa berpisah dengan sungai. Sungai adalah wadah paling nyaman untuk sikat gigi, mandi, dan buang hajat.
Bukan hanya Bardi, orang Kalimantan, Sumatera, Jawa, bahkan Cina, Korea, dan India juga bergantung pada sungai Mahakam.
Lho, kok bisa? Lampu-lampu yang menerangi mereka sebagian berasal dari energi batu bara yang datang dari wadah kita. Bumi kita itu dikupas kulitnya, dikeruk isinya, diangkut ke truk-truk perkasa, dibawa melalui sungai Mahakam, dimuat ke tongkang raksasa lalu dikirim ke Jawa, Cina, Korea, dan India.
Bumi tak pernah teriak ketika bagian dirinya diinjak-injak. Bumi tak pernah melawan ketika kulitnya dikupas. Bumi tak pernah berontak ketika perutnya dikoyak. Isinya pun luluh lantak, porakporanda meninggalkan borok-borok menganga.
Sama dengan bumi, sungaipun demikian. Sungailah sumber kehidupan. Ia tak pernah mengeluh ketika isinya diambil. Ia tak pernah menolak ketika airnya digunakan sebagai perhubungan.
Bahkan, ia tak mengaduh ketika wajahnya ditimpakan kotoran. Ada kotoran manusia dan binatang, bahkan racun kilang industri dan pertambangan.
Lantas, mengapa Wagiyo dan Bardi harus menyalahkan? Sungai tidak berontak. Tapi bukankah keindahan surga yang selalu diidamkan manusia manapun, keindahannya dilukiskan dengan sungai-sungai yang selalu mengalir di bawahnya?
Sungai tidak pernah marah. Diberaki, dikupas, dikoyak-koyak, dikotori, ia hanya pasrah. Tapi kalau Penciptanya yang marah, maka tiada siapapun termasuk "penguasa dan pengusaha" yang bisa menghalangi-Nya. (*)
*) Penulis adalah Syafruddin Pernyata (Espe), Sastrawan Kaltim
Pewarta: Espe *)Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026