Samarinda (ANTARA Kaltm) - Asih Sukmawati masih cantik. Usianya memang sudah 32 tahun. Getir kehidupan sudah menderanya ketika anak pertamanya lahir dari rahimnya. Suami yang begitu dicintainya berubah perangai.

Sejak kelahiran anak pertama, suami yang periang itu menjadi kuyu. Mata yang berbinar menjadi sendu. Sapaan dan dekapan hangat tak pernah lagi dilakukannya pada Asih.

Suaminya itu bagi Asih seperti orang lain. Dingin, hambar dan tak bersahabat. Kalau ditanya, adakah yang kurang pada diri Asih, ia menggeleng. Asih sendiri pernah menanyakan mengapa suaminya berubah.
Apa jawab suaminya? “Apa yang berubah? Tidak ada yang berubah. Jangan macam-macam. Aku capek. Jangan ganggu aku,” begitu kata suaminya.

Asih Sukmawati masih cantik. Asih tak berubah. Ia tetap bangun pagi menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ia merawat rumah dan menatanya agar selalu enak dipandang mata. Asih selalu menyambut suaminya yang lelah setelah bekerja. Senyum dan sapa Asih ternyata disambut dingin.  

Jika Asih dengan tulus memelihara dan merawat anaknya, tidaklah demikian pada suaminya.  Paling sekadar menengok anaknya. Itulah yang dilakukan suaminya. Tak pernah mengganti popok apalagi menepuk-nepuk pantat anaknya bila menangis di malam hari.

Bila Bayu, demikian nama anaknya itu, menangis, maka dengan segera suaminya memanggil Asih dengan suara keras agar mengurus anaknya. Perkara mengasuh anak menjadi ihwal yang bisa menyulut suaminya marah.

Suatu kali, suaminya marah melewati batas. Ia menampar mulut anaknya. Tak puas, ia pun memukul betisnya. Bayu tersandar di dinding. Jerit dan teriakannya sampai di tetangga. Bang Biang Panamparan (Bebepe), demikian nama suami Asih ini, tak cukup puas melihat Bayu yang berdiri kuyu di dinding dengan linangan air mata.

Maka, Bebepe meraih gagang sapu di dekat pintu kamar dan plak plak, gagang sapu itu bersarang di betis anaknya yang masih belia.

Bayu menjerit.Usianya yang baru lima tahun tak mampu menahan betapa pedihnya pukulan itu. Melihat Bayu menjerit, Bebepe bukan bertambah iba. Ia malah menghardik anaknya. “Kalau kau berteriak, kutampar mulutmu!”

Bayu mencoba mengunci mulutnya. Matanya yang sembab terlihat kuyu dan tak berdaya. Jerit memang berhasil ditahannya.Tapi isaknya dan getar bibirnya tak kuasa dihentikan.

“Diam!” bentak Bebepe seraya menyiapkan tangannya untuk memberi tamparan berikutnya.
Asih Sukmawati, isterinya, tak tahan melihat peristiwa itu. Ia tahu, ia bisa jadi korban kemarahan suaminya.

Ia siap jadi korban. Ia tidak bisa membiarkan suaminya memukul Bayu. Ia tak sanggup melihat Bayu, buah hati yang ia kandung dan ia rawat, harus menerima hukuman kejam dari seorang ayah kandungnya sendiri.

Maka, ia pun memeluk Bayu dan melindunginya. Ia siap untuk menerima resiko apapun dari seorang lelaki yang ia banggakan ketika mereka masih pacaran.

“Urus anakmu itu!” bentak Bebepe pada isterinya. Ia lalu pergi mengendarai sepeda motornya, entah kemana.

Asih masih mendekap Bayu. Air matanya pun tak mau berhenti mengalir. Sebagai seorang ibu, ia sudah belajar bagaimana merawat dan mendidik anak.

Di matanya, Bebepe bukan ayah yang baik, bukan pula suami yang baik. Apalah artinya kesalahan Bayu yang tidak hati-hati mengangkat dan membawa piring usai makan. Piring itu jatuh dan pecah.
Bebepe marah dan bersungut-sungut bahwa piring itu bukan pemberian toko Atong di sebelah rumah mereka. Piring itu dibeli hasil jerih payahnya selaku pekerja.

Itulah pangkal kemarahan Bebepe. Itu pula yang menyebabkan betis anak itu dipukulnya dengan gagang sapu.

Peristiwa itu bukan yang terakhir. Bebepe seakan ‘kecanduan’. Hal sepele saja bisa membuat ia marah berkepanjangan. Bukan hanya mulutnya yang bicara tapi juga tangannya.

Itulah penyebab jika hari-hari berikutnya Asih memilih hidup sendiri. Mencari rezki sendiri. Mengurus anak sendiri. Menangis sendiri. Ia minta kekuatan kepada Ilahi untuk membesarkan si buah hati. Ia selalu bangun tengah malam yang sepi kadang hingga dinihari, mengadukan nasibnya dan memohon perlindungan kepada Allah yang ia cintai.

Dengan segenap kasih sayang dan cinta sepenuh hati ia merawat, mengasuh dan membimbing Bayu agar bisa tumbuh dan berkembang.  Bayu titipan Allah. Bayu adalah amanah. Begitu keyakinan Asih.

Asih tahu cara mendidik anak. Ia mulai dengan memanggil nama anaknya dengan kata-kata yang baik.

“Sayang... pintar”. Nama panggilan yang kurang baik akan menyebabkan anak malu dan merasa rendah diri.
Ia selalu mencari waktu untuk memeluk anaknya setiap hari. Anak yang dipeluk setiap hari akan mempunyai kekuatan IQ yg lebih kuat dari pada anak yang jarang dipeluk.

Ia selalu menatap Bayu dengan pandangan kasih sayang. Pandangan ini akan diharapkannya akan membuat Bayu percaya diri. Demikian pula ia selalu memberikan peneguhan setiap kali Bayu berbuat kebaikan.
Asih tahu bahwa Bayu masih kanak-kanak, belum matang, dan tidak mungkin bisa melakukan perbuatan baik selamanya. Suatu saat, bisa saja Bayu salah, khilaf.

Itulah sebabnya Asih tak bisa membenarkan Bebepe menghardik apalagi sampai memukul Bayu. Menurut Asih, tidak seharusnya dalam membesarkan dan mendidik anak-anak, orang tua mengeluh. Keluhan akan membuat anak-anak merasakan diri mereka adalah beban.

Sebagai ibu, ia sudah membiasakan diri untuk mendengar cerita anaknya. Cerita itu tak akan dapat ia dengar lagi pada masa akan datang. Ia sabar menunggu giliran untuk bercakap dengan Bayu. Kata Asih, inilah cara mengajar anak tentang giliran untuk berbicara.

Asih selalu berusaha menenangkan anaknya setiap kali anaknya memerlukannya. Apalagi di saat menghadapi kemarahan ayahnya.

Asih selalu berusaha meluangkan waktu bersama Bayu di luar rumah. Ia selalu menuntun tangan anaknya apabila berjalan. Hal itu ia lakukan agar Bayu mengerti betapa pentingnya kehadiran ibu di sisinya.

Ia selalu berusaha menjadi pendengar yang baik akan mimpi-mimpi Bayu karena mimpi bagi Bayu adalah kenyataan; harapan dan keinginan. Dan, tak pernah Asih membiarkan Bayu tidur tanpa ciumannya.

Asih menyeka air matanya. Pembawa acara memanggil namanya dan Bayu untuk menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik dengan predikat cum laude.

Ia tak menyangka kasih sayang yang ia tumpahkan kepada Bayu di tengah kegetiran hidup sebagai janda; orang tua tunggal, mampu mengasuh dan memberikan pendidikan terbaik untuk Bayu; anaknya.

Bayu tak segera melangkah menuju panggung kehormatan. Ia malah segera memeluk, bersujud dan bersimpuh kepada ibundanya. Ia tahu, pengorbanan yang tiada tara itulah yang melahirkan dirinya sebagai sarjana dengan ‘kehormatan’; cum laude.

Puluhan pasang mata menyaksikan ibu dan anak itu yang sedang diharu-biru karena terharu. Puluhan pasang mata itu tidak tahu, bahwa Bayu jadi sarjana dibiayai oleh bundanya yang janda dan mencari nafkah sebagai pembantu.  (*)

*)  Penulis adalah Syafruddin Pernyata (Espe), Sastrawan Kaltim


Pewarta: Espe *)
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026