Samarinda (ANTARA Kaltim) - Aku berteman dengan dia sudah lama. Ia tergolong teman sekelas yang pintar. Sejak sekolah dasar ia bintang kelas. Di SMP dan SMA sampai perguruan tinggi pun ia selalu juara. Ia cakap menulis, pandai pula berbicara. Wisnu Rangga namanya.

Tak ada di antara kami sekelas yang mampu menandingi keenceran otaknya. Mungkin karena pergaulannya terpilih. Mungkin pula karena dahaga ilmu pengetahuan yang selalu bersemayam dalam otaknya.

Ia bisa lancar bicara tentang sistem politik dan perekonomian. Ia juga fasih menjelaskan teknologi pertanian dan industry pesawat terbang. Ia biasa melahap pikiran-pikiran Jhon Nisbite, Ricardo Semler, Stephen R. Covey, Peter F. Drucker, Jim Collins, Robert K. Cooper, Brian Tracy, sampai Sun Yat Sen.

Wisnu secara lugas mampu menjelaskan pikiran-pikiran Bung Karno, Hatta, Syahrir, Natsir, Agus Salim sampai Tan Malaka. Bahkan daya jelajahnya hingga gagasan dan pikiran Jamaluddin Al Afghani, Muahmmad Abduh, Rasyid Ridha, hingga Yaser Arafat. Pun ia membaca karya Hamka, Rhenald Kasali, Hermawan Kartajaya dan novelis Andrea Hirata.

Maka, ketika bertemu lagi sore ini, setelah 18 tahun tak bersua, kulihat keluasan dan kedalaman ilmunya bertambah luar biasa.

"Aku menikah dengan wanita cantik dari bumi Parahiyangan. Aku dikaruniai 3 anak. Yang sulung, Bondan Perwira, sekarang sedang kuliah di Universitas Indonesia. Yang kedua masih SMA kelas III di SMA Unggul, dan yang terakhir, si bungsu, masih kelas III SD," katanya.

Wisnu pun lalu menceritakan bagaimana anaknya yang sulung, Bondan Perwira, mendapat bea siswa karena kecerdasan otaknya. Bondan-lah yang menjelaskan kepadanya bahwa tahun-tahun mendatang sampai tahun 2015 dalam pengembangan Sains telah dirancang barang-barang untuk keperluan hidup manusia secara efisien dan efektif.

Menurut Bondan, kini telah diciptakan cat tembok yang akan berubah warna sesuai dengan suhu. Dinding anti corat-coret. Kacamata anti gores dan anti pecah walaupun dilindas mobil atau truk.

Ban mobil yang anti pecah selama 10-20 tahun digunakan; Body mobil yang anti gores dan anti pesok walaupun berbenturan dengan benda keras.

Produk tekstil/baju yang lebih ringan, lebih kuat, anti basah, anti debu, anti lekuk, sejuk di waktu panas, dan hangat di waktu dingin. Bahkan, yang lebih dahsyat, di dunia militer akan diciptakan bom yang tidak berbunyi "BOMM",  tetapi tiba-tiba manusia mati bergeleparan bagaikan ayam yang terserang flu burung.

Aku yang mendengar cerita Wisnu dan bagaimana cerdasnya Bondan tak bisa merespons apa-apa, kecuali terkesima. Aku memang tidak mampu bersekolah tinggi karena ketiadaan biaya. Aku juga sudah menikah dan punya anak lima.

Anakku sekolah semua di sekolah biasa dan di yang paling tua juga kuliah. Kuliah si sulung pun di perguruan tinggi tak ternama. Maklum, pekerjaanku sebagai pedagang bunga dan pekerja taman tidak cukup mengirim anakku kuliah ke pulau Jawa.

"Anakmu pintar karena ayahnya juga pintar," itulah kalimat yang bisa kusampaikan sebagai tanda aku menghargai kepintarannya dan kepintaran anaknya.
"Kau keliru, kawan," kata Wisnu padaku.

"Kepintaran bukan warisan. Kepintaran bukan takdir. Bukan pula bawaan. Kepintaran adalah usaha yang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh belajar," Ujar Wisnu. Ucapannya benar. Meski begitu, aku tersinggung juga. Sebab ucapan Wisnu itu sama dengan menilaiku bahwa ketika sekolah dulu aku tidak sungguh-sungguh dan karena itu aku tidak sepintar dia.

Tentu saja aku tak menyatakan ketersinggungan itu, kecuali mengangguk-angguk tanda bahwa aku sependapat dengannya.

"Kau tahu tidak, saat ini, menurut Bondan,  kita kalah dibanding Negara lain dalam pengembangan Nanoteknologi. Nanoteknologi adalah suatu teknologi yang dihasilkan dari pemanfaatan sifat-sifat molekul atau struktur atom apabila berukuran nanometer. Ilmu yang berkecimpung dalam pembuatan, analisis dan karakterisasi bahan dengan struktur dalam orde nanometer disebut nanosains". Aku diam. Sungguh, aku baru mendengarnya.

"Awalan nano berasal dari bahasa Yunani dipakai untuk angka baku yang kecil 1/1.000.000.000. Jadi, satu nanometer (nm) sama dengan 1/1.000.000.000. Satu helai rambut manusia diamternya kira-kira 50.000 nm. Bakteri berukuran ratusan nanometer. Bentuk terkecil yang dapat dibuat pada sebuah mikrochip sampai 2002 sekitar 130 nm". Aku diam. Bukan terkesima, melainkan tidak paham. Aku tetap mengangguk-angguk kepala dank arena itu, Wisnu pun tambah bersemangat menjelaskannya.

"Paling lambat tahun 2015 dunia akan memasuki era nanoteknologi. Pada era ini banyak industri yang tutup.Banyak bisnis yang gulung tikar. Dunia pendidikan dan riset akan dikuasai tenaga terampil asing. Mengapa? Karena Nanoteknologi dapat mengubah suatu bahan/material yang tidak berguna menjadi berguna hanya dengan mengatur kembali susunan unsur-unsur pembentuknya dengan menambahkan unsur lain untuk memperkuatnya". Kali ini aku berdecak kagum.

"Dengan nanoteknologi akan dibuat semen bukan dari bahan semen tetapi dari kulit singkong atau sekam padi dan limbah pertanian lainnya. Akan dihasilkan bahan keras tidak lagi dari tambang intan sebagai alat potong baja tetapi dari udara (nitrogen, hidrogen, dll)," Ujar Wisnu.

Menurut Bondan, kata Wisnu, kita memiliki banyak gamping (clay), zeolit, kapur, arang kelapa dll. Dengan nanoteknologi dapat dibuat nanopartikel dari clay untuk dicampurkan dalam polimer menjadi produk nanotekonologi yang disebut Plymer nanocomposite (PNC). PNC sangat ringat, kuat seperti  baja, tangguh, elastis, sudah dipakai industri mobil terkemuka seperti Toyota dan Nissan untk bemper mobil. Bemper pulih seperti semula setelah benturan.

Contohnya, L’oreal (Paris) telah mengeluarkan produk kecantikan berbasis teknologi. Krim yang diperkaya vitamin A dimasukkan dalam kapsul polimer dan ditaruh di bawah kulit sehingga melarut sedikit demi sedikit ke permukaan kulit. Kulit tetap segar sepanjang hari.

Bahkan, Kao mengeluarkan dan memproduksi pasta gigi yang menjadikan senyawa kalsium flourida dibuat dalam ukuran 10 nm sehingga meningkatkan penyerapan fluoride pada gigi.

"Bondan memang kuliah di tempat yang tepat. Luar biasa pengetahuannya. Sayangnya....," Wisnu memotong ucapannya. "Ada apa dengan Bondan, kok kau bilang sayangnya...," kataku penasaran.

Wisnu tak segera menjawab. Ia pandangi wajahku tapi tak kutahu akukah yang dipandangnya. Kulihat pandangan itu tembus melewati mataku. Pandangan itu untuk seseorang yang jauh. Jarang aku melihat pandangan seakan mencerminkan kekecewaan dan kesedihan.

"Aku menyayangi semua anakku. Aku mencintai Bondan sebagaimana juga aku juga mencintai ibu dan kedua adiknya. Apakah karena aku tidak sehebat dia, maka Bondan dengan mudahnya menggunakan kalimat : Bapak saja yang ketinggalan zaman. Itu karena Bapak gaptek. Bapak bodoh sih. Itu kuno, Pak. Jangan lemot gitu dong, Pak. Bah, dasar ortu masa lalu, kolot!"

Kulihat mata Wisnu berkabut. Kubiarkan ia menumpahkan kegundahan dan kekecewaan terhadap Bondan yang beberapa saat lalu justru dipujinya.

Lelaki, sahabatku yang dikenal pintar itu tampak begitu terpukul oleh ucapan-ucapan anaknya, saat anaknya menjelaskan revolusi di bidang sains dan teknologi. Dengan suara serak dan lirih ia meneruskan kalimatnya.

"Tidak cukup hanya pintar. Aku menginginkan anakku cerdas omongnya dan cerdas pula budinya. Ia tak sopan. Ia sok pintar. Mengapa Bondan bisa berkata dengan kata-kata seperti itu? Siapa yang mengajarnya sehingga bisa mengatakan bodoh bahkan kepada bapaknya? Ia lupa, bahwa kesuksesan seseorang tidak semata ditentukan otaknya, justru lebih banyak ditentukan keluhuran budinya".

Tak kusangka, Wisnu harus meneteskan air mata di hadapanku. Ia terluka. Karena itu, kurengkuh bahunya dan kuajak minum teh di beranda rumahku ketika matahari sudah berwarna jingga. (*)

*) Penulis adalah Syafruddin Pernyata, Sastrawan Kaltim


Pewarta: Espe *)
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026