Rum Sari memang tumbuh jadi gadis cantik jelita, terutama bulu matanya. Lentik, natural, dan memancarkan pesona. Akan tetapi, mata indah itu malam ini tidak memancarkan auranya. Mata itu berkabut dan pemiliknya terisak-isak dan bahunya bergoncang.
"Ada apa, Rum. Kayaknya kamu menangis?", seorang gadis, teman kost mengingatkan.
Rum Sari tak menjawab. Bahkan isaknya semakin terdengar. Dan pelan-pelan keluar dari mulutnya. Sepatakah kata saja. "Ibu..." desahnya pelan tapi cukup terdengar.
Di ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Siapa yang dimaksud dengan ibu oleh Rum Sari?
Ternyata, tayangan sebuah infotainment di televisi tentang seorang artis yang memusuhi ibunya telah mengingatkan Rum Sari pada mendiang ibunya. "Dasar artis tak tahu diuntung", kata Rum Sari.
Rum Sari pun lalu menjelaskan bahwa karena seorang ibu, maka kita ada. "Bisakah kita besar sekarang, jika tidak pernah dihamilkan, dirawat dan dibesarkan. Kok ada anak yang bisa memusuhi ibunya? Apa dia dulu lahir dari rahim sapi, kerbau, singa?" ujar Rum Sari yang tampak tidak terima dengan tabiat artis itu.
Di mata Rum, demikian ia biasa disapa, ada dua keistimewaan kaum wanita atau ibu. Pertama memiliki rahim dan kedua, ia mengalami hamil.
Kata rahim berasal dari bahasa Arab yang artinya "penyayang" atau (mempunyai) "kasih sayang". Ini berarti, yang memiliki kasih sayang hanyalah kaum wanita. Jadi, kalau ada wanita tidak memiliki sifat "penyayang", maka dipertanyakan "kewanitaannya".
Karena ia memiki sifat penyayang, maka hanya wanita yang bisa hamil. Mengapa? Karena seseorang yang hamil haruslah selalu menyayangi anak yang dikandungnya, sejak anak itu berupa janin sampai dengan dilahirkan: sekitar sembilan bulan.
Ini juga menyiratkan bahwa pria tak patut hamil karena sifat penyayangnya ’diragukan’. Dalam pandangan Rum Sari, jika pria bisa dan boleh hamil, mungkin banyak ’calon bayi’ yang bakal tak sempat melihat dunia.
"Jangan-jangan kalau pria bisa hamil dan ia sedang marah, kecewa, tak ada uang, dia akan mengorbankan bayinya," kata Rum.
Tentu saja, kesimpulan Rum Sari sangat bisa diperdebatkan. Kesimpulan ini seakan menuduh pria itu pemarah, pemberang, penyerang, penendang, penentang.
"Jangan ditafsirkan begitu. Kita harus menafsirkan bahwa karena wanita penyayang, maka tidaklah patut kalau ada pria tidak menyayangi wanita. Artinya, seorang suami harus memperlakukan isterinya dengan penuh kasih sayang. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin seorang wanita bisa menunaikan tugasnya. Bayangkan, kalau seorang isteri sedang hamil, tapi asupan gizinya adalah marah; hardik; caci maki dari suaminya? Bisakah dia melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan penuh kasih sayang sebagaima kodratnya?".
Rum lalu menjelaskan, betapa mulianya ketika terminologi rahim dan hamil itu digunakan oleh (orang/bahasa) Indonesia untuk melukiskan bahwa hanya wanita yang bisa hamil "mengandung" dan calon bayi yang dikandung itu berada dalam ’rahim’; yang bermakna penyayang.
Kata hamil berasal dari bahasa Arab yang artinya "membawa" atau "mengandung". Yang dibawa atau dikandung itu ditempatkan dalam tempat yang istimewa dan tidak dimiliki pria yaitu rahim "penyayang".
Pengertian itu memang sesuai dengan kenyataan. Kita menyaksikan, saat sedang mengandung, ibu-ibu --maaf -- mirip kanguru yang sedang membawa anaknya.
Saat mengandung, seorang ibu membawa cikal-bakal anaknya dalam rahim selama sembilan bulan 10 hari (ukuran normal), dengan sepenuh kasih sayang. Kenyataan ini tidak terbantahkan. Kasih sayang ibu tidak terbalaskan. Juga posisinya tidak tergantikan. Oleh siapa pun!
Maka, bila ada kisah yang menuturkan anak yang durhaka kepada ibunya akhirnya mati menjadi batu, itu semata-mata untuk menunjukkan betapa luar biasanya jasa seorang ibu.
Ada juga cerita tentang seseorang yang saleh, rajin shalat, puasa, membayar zakat dan seterusnya, namun di ujung hidupnya menderita sakit begitu lama dan sulit untuk meninggal karena tidak mendapat ridha dari ibunya. Ini juga untuk menunjukkan betapa jasa seorang ibu tidak tergantikan.
Rum Sari lalu mengutip puisi yang dikirimkan temannya melalui face books-nya. Bunyinya begini :
Saat, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau malah kabur ketika dia memanggilmu.
Saat dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai karena menganggapnya tak nyaman.
Saat dia membelikanmu pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.
Saat dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga berbagai perayaan.
Sebagai balasannya, kau berlari meninggalkannya tanpa memberi salam.
Saat dia menemanimu ke bioskop menonton film.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau malah berpesta dan melupakannya
Saat dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"
Saat dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat dia menelepon untuk memberitahukan ada hajatan seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam hatimu bagaikan palu godam.
Satu pertanyaan pun pantas diajukan: pernahkah anak-anak yang sudah besar, sudah menjadi pengusaha, manajer, bupati, atau apa saja bertanya kepada dirinya atau kepada ibunya mengenai saat-saat ibu mengandung. Seperti apakah kehidupan ibu saat mengandung? Apakah baik-baik saja?
Apakah selama sembilan bulan ibu senang-senang saja, tidak dimarahi bapak? Apakah ibu ketika mengandung tidak bersimbah peluh bekerja sebagai tukang cuci agar tetap dapat membeli makanan yang bergizi bagi sang jabang bayi dalam rahim, karena bapak hanya seorang tukang servis payung yang kadang mendapat rezeki kadang tidak?
Allah mengingatkan bagaimana anak harus memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik, berkata-kata dengan baik, dan memperlakukan dengan baik pula.
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" [Al Israa' , ayat 23]
Seorang anak bukan hanya berkata dan berbuat baik kepada orang tuanya, tapi juga mendoakannya. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa ketika manusia meninggal dunia, salah satu yang bisa meneruskan ia mendapatkan pahala adalah anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT.
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."
[Al Israa' , ayat 24 ]
"Aku yakin, artis itu tidak pernah hamil. Sebab, kalau tanpa kasih sayang ibunya ketika mengandung, merawat dan membesarkan, bisakah dia jadi artis seperti sekarang? Seakan-akan dia lahir bukan dari rahim ibunya. Atau dia menganggap ia dikandung, dirawat dan dibesarkan oleh binatang?" Pedas benar ucapan Rum melihat kelakuan artis di infotainment itu.
Menurut Rum, harusnya artis itu bersyukur. Ibunya masih ada. Masih sehat. "Aku?" kata Rum bertanya kepada dirinya sendiri. Rum pun terisak kembali dan ingatannya pun melayang-layang pada betapa besarnya kasih sayang ibunya yang sudah lima tahun "berpulang". (*)
*) Penulis adalah Syafruddin Pernyata (Espe), Sastrawan Kaltim
Pewarta: Espe *)Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.