Balikpapan (ANTARA) - Pertamina mulai mengoperasikan SPM (single point mooring) dan tambahan dua tangki baru masing-masing berkapasitas 1 juta barel di Terminal Minyak Mentah (Crude) Lawe-lawe, Penajam Paser Utara.
Kedua tangki dibangun sebagai bagian dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Satu tanker raksasa kelas VLCC (very large crude carrier) dengan bobot mati 320.000 ton membawa 2 juta barel minyak merapat di akhir tahun 2025 lalu.
Dari SPM di Selat Makassar, sekitar 7 mil dari pantai, minyak mentah dipompa ke salah satu tangki berkapasitas 1 juta barel tersebut. Sisa muatan lainnya dialirkan ke sejumlah tangki lain di Terminal Lawe-lawe.
Sebelum proyek RDMP, Terminal Lawe-lawe terdiri dari tujuh tangki masing-masing berkapasitas 800.000 barel, atau seluruhnya mampu menyimpan 5,6 juta barel minyak. Tambahan dua tangki raksasa membuat kapasitas terminal meningkat menjadi total 7,6 juta barel minyak mentah.
“Proses pengisian ini juga menggunakan fasilitas yang sudah ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam proyek RDMP. Kapal tambat di SPM pada 24–29 Desember 2025, memompa minyak ke crude terminal dengan kecepatan 8.000 barel per jam,” kata Humas PT Kilang Pertamina Balikpapan, Asep Sulaeman, Kamis.
Kapal tanker yang tambat di SPM juga menjadi ujian tersendiri bagi fasilitas tersebut, yang dirancang untuk melayani kapal hingga kelas 320.000 DWT (dead weight tonnage, bobot mati).
Proyek RDMP Balikpapan merupakan program strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompleksitas kilang, termasuk pembangunan fasilitas penerimaan minyak mentah di Lawe-lawe untuk memastikan pasokan lebih stabil.
Keberhasilan pengisian perdana ini merupakan hasil koordinasi PT Kilang Pertamina Balikpapan bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU V Balikpapan, PT Pertamina Marine Solutions (PMSOL), dan PT Patra Logistik. Seluruh unsur terlibat dalam pengaturan tambat, pengawasan alir minyak, hingga pengujian sistem pipa bawah laut.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Balikpapan, Bambang Harimurti, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan infrastruktur energi nasional.
“Pengisian perdana ini menunjukkan kesiapan fasilitas baru dalam mendukung peningkatan kapasitas kilang dan ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan sandar kapal tanker raksasa tersebut menjadi bukti kesiapan sistem penerimaan minyak mentah RDMP Lawe-lawe dalam menangani pasokan skala besar secara aman dan berkelanjutan.
Sarana tambat SPM tersebut terhubung dengan pipa bawah laut berdiameter 52 inci sepanjang 13,9 kilometer di lepas pantai dan 6,3 kilometer di darat menuju Terminal Minyak Mentah Lawe-lawe.
Selain aspek teknis, kegiatan sandar perdana ini juga dirangkaikan dengan doa bersama dan penyaluran bantuan sosial kepada panti asuhan serta fasilitas pendidikan di Penajam Paser Utara sebagai bagian dari rangkaian kegiatan perusahaan. *

Tanker raksasa bongkar muatan 2 juta barel minyak mentah lewat SPM, 7 mil dari pantai Lawelawe. Dengan kecepatan pompa 8.000 meter kubik per jam, minyak dialirkan dari kapal ke tangki penampungan di Crude Terminal Lawelawe. (ANTARA/HO-KPB)
