Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga bahan pangan saat Ramadhan dan Lebaran dapat diredam dengan memperlancar distribusi dan meningkatkan supply (suplai).
“Jika ingin meredam kenaikan harga bahan pangan maka harus melakukan upaya memperlancar distribusi bahan pangan dari hulu sampai konsumen, (serta) meningkatkan supply bahan pangan melalui peningkatan produksi dan operasi pasar,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin
Biasanya, harga pangan disebut mengalami kenaikan menjelang Ramadhan dan Lebaran karena dua faktor. Pertama ialah kenaikan permintaan barang menjelang puasa dan hari raya untuk konsumsi masyarakat, dan kedua yaitu supply bahan pangan cenderung relatif stabil dari waktu ke waktu karena kapasitas produksi bahan pangan domestik biasanya konstan.
Dalam menyikapi keadaan tersebut, dia menilai Harga Eceran Tertinggi (HET) seharusnya disesuaikan secara berkala dan mengikuti berbagai faktor, termasuk variasi musiman di momen-momen tertentu seperti Ramadhan, Lebaran, Natal, dan l hari besar lain.
“Kebijakan stabilitas pangan kerap reaktif karena pemerintah biasanya jika menerapkan ceiling price (HET) tidak dipatuhi pedagang bahan pangan, karena biasanya HET di bawah harga pasar, sehingga biasanya direspons dengan menghilangnya bahan pangan di pasar,” ungkap dia.
Baca juga: Penajam jaga stabilitas harga pangan jelang Ramadhan
Lebih lanjut, Esther berpendapat kenaikan harga bahan pangan akan menurunkan daya beli masyarakat berpendapatan rendah. Apalagi, lanjutnya, sekitar 40-50 persen pendapatan mereka dialokasikan untuk membeli bahan pangan
Suplai yang kurang di pasar, kenaikan permintaan oleh pasar, dan faktor musiman dianggap menjadi beberapa penyebab gejolak bahan pangan.
Menurut dia, hingga saat ini inflasi didominasi dari bahan pangan dan transportasi, tetapi masih terkendali sampai sekarang.
Ke depan, Esther mewanti-wanti tiga faktor yang harus diwaspadai, yaitu peningkatan konflik geopolitik mengakibatkan kenaikan harga energi dan komoditas pangan impor (seperti gandum, kedelai, dan bawah putih), lalu lonjakan permintaan karena program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kondisi cuaca mengakibatkan gagal panen, dan suplai pangan di pasar berkurang.
Karena itu, tindakan preventif yang dinyatakan dapat dilakukan adalah menjaga pasokan pangan dengan dorong program swasembada pangan dan energi.
Berikutnya, melancarkan distribusi barang dan menekan biaya logistik dengan memperbaiki infrastruktur dan memberi subsidi. Adapun tindakan terakhir adalah evaluasi program MBG, yang dinilai sebaiknya hanya untuk daerah dengan jumlah warga stunting yang tinggi.
Baca juga: Sidang Isbat penentuan Ramadhan berlangsung 17 Februari
