Samarinda (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur (KPw BI Kaltim) memproyeksi perekonomian provinsi ini mengalami pertumbuhan di kisaran 5 persen, yang ditopang oleh sektor industri pengolahan hasil tambang dan migas, agribisnis, manufaktur, dan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO).
"Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Kaltim pada 2025 tumbuh pada rentang 4,8 - 5,6 persen (year-on-year/yoy). Kemudian akan tumbuh lebih tinggi lagi pada 2026 di kisaran 5,50 – 6,30 persen (yoy)," ujar Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto di Samarinda, Jumat.
Selain geliat sektor industri, proyeksi ini seiring dengan ekspansi dan potensi penambahan industri hilirisasi baru dan kegiatan proyek konstruksi pemerintah dan swasta, termasuk sejumlah proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Proyeksi ini, lanjut Budi, juga sejalan dengan target laju pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 yang ditetapkan oleh Bappeda sebesar 6,60 – 7,20 persen tahun ke tahun (yoy).
Namun demikian, lanjut dia, terdapat tantangan yang perlu diantisipasi seperti isu sektor ekstraktif yang masih menjadi penopang utama, terutama permintaan batu bara global diprakirakan turun sekitar 8 persen (yoy) di periode 2026.
Ia melanjutkan, kompleksitas perekonomian global di penghujung 2025 masih diliputi ketidakpastian dan tren melambat, salah satunya akibat penerapan tarif resiprokal AS. Namun demikian, di tengah gejolak tersebut, resiliensi ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2025 sebesar 5,17 persen (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, ditopang oleh kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi yang sangat baik.
Dari sisi stabilitas, cadangan devisa tetap kuat senilai 148,7 miliar dolar AS pada akhir September 2025, kemudian nilai tukar Rupiah juga terkendali tercatat sebesar Rp16.608 per dolar AS pada 28 Oktober 2025, bahkan menguat 0,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Resiliensi ekonomi yang kuat tersebut juga tercermin di Kaltim, yakni pada triwulan II 2025 ekonomi Kaltim tumbuh 4,69 persen (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Kinerja ini menjadikan Kaltim sebagai kontributor terbesar terhadap ekonomi se-Kalimantan yang tercatat 46 persen," katanya.
Sedangkan dari sisi stabilitas harga, inflasi Kaltim pada triwulan III 2025 terkendali di rentang target nasional, yakni 1,77 persen (yoy). Bahkan tercatat lebih rendah dibanding inflasi nasional dan provinsi lainnya di Kalimantan.
Perkembangan sistem pembayaran juga menunjukkan tren positif, transaksi nontunai terus meningkat, terutama pada transaksi kode batang QRIS yang tumbuh 144 persen sehingga menjadikan Kaltim sebagai kontributor utama transaksi nontunai di Kalimantan dengan pangsa QRIS sebesar 55 persen.
"Dari sisi intermediasi perbankan, penyaluran kredit di Kaltim tumbuh positif 2,37 persen pada triwulan III 2025. Kaltim memegang pangsa kredit tertinggi se-Kalimantan, yakni 36,8 persen dari total penyaluran kredit di Kalimantan," katanya.
