Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan pihaknya menggencarkan imunisasi measles atau campak dan rubella (MR) bagi anak PAUD dan TK mulai pekan depan, sebagai satu upaya merespons notifikasi Australia terkait kasus campak WNA yang berpergian ke Indonesia.
"Jadi penguatan imunisasi kita lakukan secara rutin dan imunisasi kejar MR, terutama pada wilayah dengan cakupan rendah. Itu kita lakukan. Kemudian yang kedua adalah pemberian imunisasi MR tambahan pada daerah-daerah dengan KLB tahun 2025-2026. Dan MR tambahan ini merupakan crash program," kata Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni, di Jakarta, Kamis.
Untuk meningkatkan cakupan di daerah yang rendah angka imunisasinya karena tingginya angka penolakan vaksin, pihaknya berupaya menggandeng pemerintah daerah, tokoh-tokoh penting seperti tokoh agama dan organisasi profesi, guna menyebarluaskan informasi tentang pentingnya imunisasi tersebut.
Pada 2025, katanya, ada 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terkonfirmasi lab di 89 kabupaten-kota di 16 provinsi. Kasus suspek 63.769, termasuk di dalamnya konfirmasi lab 11.094. Ada 69 kasus yang meninggal, dan fatality rate sebesar 0,1 persen, seperti negara-negara maju yang menghadapi campak.
Lima provinsi KLB terbanyak pada 2025 yakni Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
"Nah, bagaimana dengan tahun 2026? Ada 21 KLB suspek campak di 17 kabupaten-kota di 11 provinsi. Dan 13 KLB campak konfirmasi lab di 9 kabupaten-kota di 6 provinsi," katanya.
Hingga minggu ke-7, lanjutnya, kasus suspek 8.224 termasuk di dalamnya yang terkonfirmasi lab 572.
Baca juga: RI perkuat imunisasi karena ada WNA terkena campak
"Dan meninggal empat kasus dan CFR-nya, fatality rate-nya itu 0,05 persen, artinya lebih rendah daripada angka negara maju, yakni tadi 0,1 persen. Kita lebih baik," katanya.
Lima provinsi KLB terbanyak pada 2026 yakni Sumatera Barat, kemudian Sumatera Selatan, Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Pihaknya juga menguatkan surveilans serta tata laksana penanganan campak, mulai dari isolasi, pemberian obat dan vitamin A, serta menyiapkan rumah sakit apabila terjadi komplikasi.
Dalam kesempatan yang sama, Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropik Departemen Perempuan dan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Mulya Rahma Karyanti mengatakan campak sangat menular dan infeksius, dan satu anak terinfeksi bisa menularkan hingga ke 18 orang lain.
Yang dikhawatirkan, katanya, apabila anak-anak yang punya campak dan rubella ini juga menularkan ke ibu hamil. Jika ibu tersebut terinfeksi, lanjutnya, bayi yang dikandungnya bisa cacat.
"Kalau kena rubella, bahkan bisa menyebabkan buta, katarak, tuli, dan kelainan jantung, serta gangguan perkembangan. Kita sudah ada datanya, begitu kita kumpulkan. Kemudian kalau kena campak ibu hamil, itu malah bisa keguguran bayinya. Jadi seorang ibu yang hamil itu sangat-sangat rentan," katanya.
Mulya menyebutkan campak dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh anak, pneumonia, diare hingga dehidrasi berat, bahkan ensefalitis atau peradangan pada jaringan otak.
Dia berharap dengan edukasi yang rutin, cakupan imunisasi campak bisa mencapai lebih dari 95 persen.
Sebelumnya, Indonesia menerima notifikasi dari Australia terkait WNA berusia 18 tahun yang terkena campak usai berpergian ke Indonesia pada Februari 2026. WNA tersebut memiliki riwayat imunisasi MMR yang lengkap. Australia kemudian memberitahukan bahwa pada tanggal 24 Februari, orang itu sudah dinyatakan sembuh.
Kasus kedua adalah campak pada anak perempuan berusia enam tahun tanpa riwayat imunisasi lengkap.
Baca juga: Dinkes Kaltim perluas imunisasi HPV guna eliminasi kanker serviks
