Samarinda (ANTARA) - Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Kadispar Kaltim) Ririn Sari Dewi mengatakan bahwa East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 yang digelar pada 24-29 Juli dan diikuti lima negara, selain untuk melestarikan budaya juga untuk mendongkrak ekonomi.
Ekonomi yang terdongkrak bukan hanya dari hotel dan restoran, tapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku ekonomi kreatif, seperti dari industri rumahan hingga para perajin suvenir.
"Lima negara yang datang ke Kaltim untuk menjadi peserta EBIFF tahun ini adalah Rusia, India, Rumania, Polandia, dan dari Korea Selatan," kata Ririn Sari Dewi di Samarinda, Senin.
Festival ini juga diikuti lima provinsi di luar Kaltim, yakni Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan dari Kaltim, semua kabupaten/kota turut menjadi peserta.
Hal ini tentu mendorong perputaran ekonomi nasional dan daerah, karena selain mereka mengeluarkan biaya transportasi terutama tiket pesawat, dipastikan semua tamu juga membutuhkan tempat tinggal sementara (hotel/ penginapan), makan, minum, dan oleh-oleh untuk dibawa pulang baik berupa makanan pokok, kue tradisional maupun suvenir khas.
Terkait dengan keinginan untuk mendongkrak ekonomi UMKM maupun pelaku ekonomi kreatif (ekraf), ia pun telah menempatkan 161 gerai UMKM pada dua lokasi yang menjadi pusat kegiatan EBIFF, yakni 94 UMKM di Creative Hub Temindung Samarinda dan 67 UMKM Kompleks GOR Kadrie Oening Sempaja Samarinda.
Selama giat ini, rata-rata lebih dari seribu warga memadati dua titik utama tersebut setiap hari, sehingga Ririn mengaku bahagia karena jumlah pengunjung melebihi target yang dipasang, yakni sebelumnya ia pasang target rata-rata seribu pengunjung per hari.
"Pengunjung tidak sekadar jalan-jalan, tapi juga berbelanja. UMKM kita laris. Ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi juga penggerak ekonomi masyarakat. Mereka belanja makanan, kerajinan tangan, dan aneka produk khas Kaltim," ujarnya.
Ririn melanjutkan, dampak dari EBIFF ini sangat luas, mulai dari para pelaku seni dan budaya memiliki kesempatan menampilkan keterampilan masing-masing yang berarti mereka juga melestarikan budaya, menggerakkan ekonomi masyarakat, hingga meningkatkan jumlah pengunjung wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.
