Samarinda (ANTARA Kaltim) - Pembangunan Jembatan Kembar yang berdampingan dengan Jembatan Mahakam Samarinda menggunakan dana dari APBD Provinsi Kaltim dengan nilai Rp383 miliar dengan panjang jembatan mencapai 400 meter dan lebar 17,02 meter.
Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat pemancangan perdana pembangunan Jembatan Kembar di Samarinda, Selasa, mengatakan pembangunan Jembatan Kembar bertujuan untuk memecah jalur lalu lintas yang terlalu padat dan macet.
Sebenarnya, lanjut Awang, pembangunan Jembatan Kembar tersebut sudah dilakukan peletakan batu pertama secara simbolis oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 Oktober 2012, yakni bersamaan dengan peresmian operasionalnya Pelabuhan Internasional Peti Kemas Kariangau, Balikpapan.
Saat itu Presiden juga meresmikan Bandara Kalimarau Berau, melakukan groundbreaking pengembangan Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, proyek pembangunan Bandara Samarinda Baru (BSB) di Samarinda, dan pembangunan pabrik Pupuk Kaltim V di Bontang.
Pembangunan Jembatan Kembar yang merupakan salah satu proyek dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ini, direncanakan memiliki tinggi clearance vertikal 17,5 meter.
Diharapkan dengan terbangunnya jembatan tersebut, maka sisi utara dan selatan Kota Samarinda dapat terhubung oleh prasarana jembatan yang representatif sehingga dapat menghilangkan kemacetan lalu lintas.
Dinamakan Jembatan Kembar karena letaknya berdampingan dengan Jembatan Mahakam, tetapi dari segi bentuknya tidak serupa karena menyesuaikan dengan teknologi pembangunan jembatan terkini.
Dia juga mengatakan, dalam era otonomi daerah dan pembangunan yang berjalan cepat dewasa ini, Kaltim sangat memerlukan dukungan lancarnya perhubungan sehingga kehadiran jembatan menjadi sangat diperlukan.
Terkait dengan itu, maka Pemprov Kaltim juga merencanakan pembangunan jembatan lainnya yang melintasi Sungai Mahakam dan sungai-sungai lain di kabupaten maupun kota se-Kaltim, sehingga pada akhirnya tidak ada lagi kawasan di Provinsi Kaltim yang terisolir karena terbatasnya sarana dan prasarana perhubungan.
Selanjutnya, sebagai pengganti jembatan Kutai Kertanegara yang runtuh pada November 2011, saat ini sedang dipersiapkan pembangunan jembatan pengganti di tempat yang lama dan satu buah jembatan lagi yang baru, yakni di Kecamatan Loa Kulu.
Dia juga berharap agar adanya dukungan biaya dari pemerintah pusat terkait pembiayaan, khususnya yang bersumber dari APBN untuk pembangunan jalan, jembatan, dan sarana maupun prasarana perhubungan lainnya, baik yang sedang maupun yang akan dibangun di Kaltim. (*)
