Sangata (ANTARA News Kaltim) - Beberapa titik, termasuk jalan utama di Kota Sangata terendam air setelah hujan deras mengguyur kota utama di Kutai Timur, Kaltim itu sejak 17.25 Wita.
Dilaporkan di Sangata, Rabu bahwa hujan deras disertai angin kencang itu telah mengakibatkan beberapa poros jalan utama di Ibu Kota Kabupaten Kutai Timur itu terendam air sekitar 20-30 Cm.
Jalan yang terendam air cukup parah itu, antara lain di Jalan Yos Sudarso I hingga Yos Sudarso VI, yakni beberapa jalan utama yang juga masuk penghubung jalan Lintas Kalimantan di Kaltim (Kutai Timur) untuk poros utara.
Kondisi itu menyebabkan kemacetan lalu lintas akibat jebakan air hujan yang merendam jalan. Bahkan, beberapa kendaraan khususnya roda dua mogok.
Kondisi serupa ternyata tidak hanya menimpa jalan utama namun juga pada beberapa kawasan pemukiman dan perumahan penduduk di kota utama "Kabupaten Batu Bara" itu.
Kawasan cukup tinggi terendam air, antara lain Kampung Tator Desa Singa Gembara, Jalan Dayung, Teluk Lingga, Rudina hingga jalan menuju kawasan pusat pemerintahan Bukit pelangi dan Sangata Lama.
"Jika hujan ini masih berlangsung beberapa jam, maka bisa terjadi banjir kian parah," kata Erci (25), salah seorang karyawan perusahaan swasta di Sangata.
Camat Kecamatan Sangata Utara, Didi Herdiansyah mengaku bahwa curah dan intensitas hujan di Sangata kian besar terbukti kawasan perkantoran Camat Sangata Utara kini sudah digenangi air, padahal termasuk kawasan cukup tinggi.
Didi Herdiansyah yang juga mantan Kasubbag Protokoler Pemkab Kutai Timur berharap agar hujan segera reda dan mengimbau agar warganya waspada banjir.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Temindung Samarinda Raden Ishak mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan hujan masih terjadi meskipun katagorinya termasuk sedang.
"Kota Sangata masih mengalami hujan dengan tingkat sedang, suhu berkisar 24-31 derajat celsius, kelembaban 72 - 96 persen dan arah angin Timur berkecepatan 10 kilometer per jam," papar dia.
Kota Sangata kini diperkirakan kian rawan banjir akibat banyaknya kawasan area tangkapan air yang beralih fungsi, serta banyak saluran air atau drainase yang tersumbat.
(Adi Sagaria)
Pewarta: Adi SagariaEditor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.