Balikpapan (ANTARA News - Kaltim) - Pemerintah menargetkan seluruh orangutan (Pongo pygmaeus) hasil tangkapan yang masih berada di pusat-pusat peliaran, termasuk di Pusat Rehabilitasi Orangutan Semboja (Kaltim) sudah tahap pelepasliaran pada 2015.
"Di mana saat ini kami di Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) tengah merehabilitasi 838 individu orangutan. Sebanyak 226 orangutan ada di Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, dan 612 ada di Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalimantan Tengah," Emilia Bassar, kepala Departemen Komunikasi BOS di Balikpapan, Selasa.
Program itu dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah RI (Indonesian Government?s Orangutan Action Plans) yang dilaksanakan oleh Kementrian Kehutanan RI bekerjasama dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS).
Ia menjelaskan bahwa BOS tengah menggelar acara Donor Conference di Hotel Le Grandeur, Balikpapan 12-14 Oktober 2010.
Mereka mengumpulkan para penyandang dana proyek dan membicarakan langkah-langkah baru untuk mempercepat pelaksaan program tersebut.
"Kami tengah mengintroduksikan kembali hutan kepada individu-individu orangutan ini agar bisa kembali hidup liar dan mandiri," sambung Emilia Bassar.
Program pelepasliaran primata tercerdas setelah gorilla dan simpanse itu disebut Program Reintroduksi Orangutan Kaltim di Samboja Lestari (PROKT-SL) untuk di Kalimantan Timur dan Progran Reintroduksi Orangutan Kalteng di Nyaru Menteng (PROKT-NM) untuk orangutan di Kalimantan Tengah.
BOS dalam program tersebut melakukan mitra dengan beberapa organisasi yang peduli dari dalam dan luar negeri. Mereka menjadi penyandang dana (funding). "Kami menyebutnya BOS Sisters," kata Emilia.
Donor Conference
Donor Conference sendiri dilaksanakan berkenaan dengan semakin dekatnya waktu yang ditargetkan pemerintah, dimana BOS merasa perlu mengkaji ulang banyak hal, mulai dari progran rutin, hingga tata organisasi internalnya.
"Karena ini berkaitan dengan pertanggungjawaban hibah yang diberikan kepada kami, maka para penyandang dana wajib tahu rencana ke depan dan perubahan-perubahan yang kami akan ambil," kata Emilia menjelaskan.
Bahkan, seperti tergambar dalam term of reference yang dikirimkan kepada ANTARA, para donor juga turut berpartisipasi sumbang saran dan pemikiran.
"Harapannya BOS mampu memberikan kontribusi efektif terhadap perlindungan orangutan dan habitatnya, dan juga memperbaiki kondisi komunitas tempatan, terutama yang terlibat langsung dalam program ini," imbuh Emilia berharap.
Yayasan Borneo Orangutan Survival berdiri sejak 1991 sebagai organisasi swadaya masyarakat non profit. Organisasi ini didirikan untuk konservasi orangutan, baik di luar habitatnya maupun di dalam habitat aslinya.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.