Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berupaya mencegah ancaman bahaya mikroplastik yang merusak ekosistem laut dan mengancam kesehatan manusia.
"Plastik membutuhkan waktu hingga 450 tahun untuk terurai dan bisa berubah menjadi mikroplastik yang tertelan ikan, sehingga berisiko memicu penyakit kanker bila dikonsumsi manusia," kata Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Yuliana Nidyasari di Samarinda, Senin.
Indonesia saat ini masih menempati peringkat kelima dunia sebagai negara penyumbang sampah terbanyak serta posisi kedua terbesar di wilayah Asia untuk masalah limbah plastik.
Dalam mengatasi masalah tersebut, pemerintah secara konsisten menerapkan lima kebijakan ekonomi biru yang berfokus pada perluasan kawasan konservasi serta pembersihan sampah plastik di lautan.
Yuliana menyebutkan bahwa pemerintah pusat telah menetapkan tiga kawasan konservasi laut di wilayah Kalimantan Timur, yakni di Kabupaten Berau, Kota Bontang, dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kawasan konservasi perairan tersebut secara khusus dibagi menjadi zona inti yang dilindungi serta zona pemanfaatan terbatas guna menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Baca juga: Warga bisa laporkan pencemaran lingkungan melalui SP4N LAPOR!
"Sebagai wujud langkah nyata di lapangan, kami turut menggulirkan program Bulan Cinta Laut yang secara langsung mengajak para nelayan untuk memungut sampah saat melaut," ujar Yuliana.
Upaya pelestarian pesisir lain juga hadir melalui inovasi Bank Sampah di Balikpapan yang memungkinkan masyarakat untuk menukarkan limbah plastik dengan bahan kebutuhan pokok maupun emas.
Menurut dia, keberhasilan berbagai program pemeliharaan kelautan ini tentu membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat tanpa hanya terus bergantung pada langkah pemerintah semata.
Yuliana terus mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk segera mulai mengurangi penggunaan material plastik sekali pakai seperti kantong belanja dan botol minuman kemasan.
"Kebiasaan sadar lingkungan dengan selalu membawa tas belanja sendiri dari rumah dan menggunakan botol minum guna ulang harus segera menjadi gaya hidup baru masyarakat," pesan dia.
Baca juga: DKP3: Banyaknya ikan mati di Pantai Manggar dari sortiran tangkapan nelayan
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026