Sebelum pandemi COVID-19 pada 2020 - 2022, populasi sapi di Kutim berada pada kisaran 24.000 ekor. Namun kemudian banyak yang kena penyakit sehingga populasinya menurun

Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur gencar melakukan vaksinasi dan pengendalian penyakit hewan ternak, guna mengembalikan populasi sapi menjadi 24.000 ekor seperti sebelumnya.

"Sebelum pandemi COVID-19 pada 2020 - 2022, populasi sapi di Kutim berada pada kisaran 24.000 ekor. Namun kemudian banyak yang kena penyakit sehingga populasinya menurun," ujar Plt Kepala Bidang Peternakan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim drh Mutia di Sangatta, Kamis.

Sedangkan saat ini, lanjut ia, populasi sapi di Kutim ada di kisaran 15.000 ekor yang tersebar di 18 kecamatan. Jumlah ini meningkat dibanding satu atau dua tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 13.000 hingga 14.000 ekor sapi.

"Penurunan populasi sapi akibat wabah penyakit hewan menular, ini yang menjadi salah satu pukulan telak bagi peternak seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), penyakit kulit benjol, hingga penyakit jembrana," kata Mutia.

Vaksinasi PMK, benjolan kulit, dan jembrana ini juga mendapat dukungan vaksin dari pemerintah pusat dan provinsi, sehingga pihaknya lebih ringan dalam penanganannya.

Selain itu, Pemkab Kutim juga menjalankan Program Desa Korporasi Ternak (PDKT) sejak 2024 di sejumlah kawasan seperti Kecamatan Teluk Pandan, Muara Wahau, dan Kaubun, sebagai upaya memperkuat kemandirian pangan asal daging.

Ia melanjutkan, ketika ada wabah yang menyerang sapi, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap populasi sapi, yakni dari 24.000 ekor lalu tinggal sekitar 15.000, sehingga pihaknya masih fokus dalam vaksinasi dan pengendalian penyakit agar populasinya bisa naik kembali.

Ia melanjutkan, untuk kebutuhan konsumsi daging sapi dan kerbau masyarakat Kutim rata-rata pada kisaran 1.200 hingga 1.250 ton per tahun, sehingga Kutim sedikitnya memerlukan sekitar 6 ribu ekor sapi potong setiap tahun.

Sedangkan jumlah sapi yang saat ini mencapai 15.000 ekor, tidak otomatis mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat secara ideal, karena tidak semua ternak memiliki sapi siap potong, mengingat masih berupa anak sapi, indukan produktif, hingga ternak dalam fase penggemukan.

"Untuk menahan laju penurunan populasi, selain melakukan vaksinasi, DTPHP Kutim juga menjalankan program penambahan populasi ternak, termasuk memperkuat kelembagaan peternak agar lebih mandiri dan terorganisasi," kata Mutia.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026