Pabrik bioetanol berbahan baku singkong di areal perusahaan PT Indominco di Kecamatan Sangasanga tersebut diresmikan Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Gufron Yusuf, Selasa.
Turut hadir pada peresmian itu, Mantan Menteri Perekonomian era Presiden Megawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, Chairman Toba Grup, Jenderal (Purn) Luhut B. Pandjaitan, dan jajaran direksi PT Indomining.
"Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyambut baik pabrik ini sebab dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lahan yang ada," kata Gufron Yusuf.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berharap, kehadiran pabrik bioetanol berbahan baku singkong tersebut dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di Kecamatan Sangasanga.
"Kami meminta perusahaan agar mempercayakan penanaman singkong sebagai bahan baku pabrik bioetanol ini kepada masyarakat dan bukan justru perusahaan sendiri yang mengelola pabrik hingga melakukan penanaman. Jadi, kami berharap dengan adanya pabrik ini diharapkan taraf hidup masyarakat akan lebih meningkat," katanya.
Ia menyampaikan terima kasih atas pabrik bioetanol berbahan baku singkong itu sebab hingga saat ini masih banyak lahan yang bisa dikelola untuk penanaman singkong.
Pandjaitan mengatakan, pembangunan pabrik bioetanol itu merupakan satu program corporate social responsibility (CSR) PT Indomining, satu perusahaan tambang batu bara yang memiliki areal konsesi di Kecamatan Sangasanga.
"Pembangunan pabrik ini merupakan program CSR dari PT Indomining. Jadi, kami akan memberdayakan masyarakat melalui kelompok-kelompok tani dengan cara memberikan penyuluhan kepada mereka dalam proses penanaman singkong kemudian hasilnya akan dibeli oleh pabrik bioetanol ini," katanya.
Hasil pengolahan singkong menjadi etanol itu, katanya, juga akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Hingga saat ini, kata dia, pabrik bioetanol yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Indo Bio Energi milik PT Indomining baru mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari.
"Pabrik ini baru bisa menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan kebutuhan 3,5 ton singkong. Kami berharap ke depannya pabrik ini akan menghasilkan hingga 5.000 liter etanol per hari sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara," katanya.
Singkong yang diolah tersebut, katanya, menghasilkan FGE (Fuel Grade Ethanol) 99,5 persen.
"Jika 90 persen premium dicampur 10 persen etanol maka akan menghasilkan Pertamax Plus sehingga kami berharap produk ini akan menjadi energi alternatif pengganti BBM. Apalagi bahan bakunya sangat mudah ditemukan dan mudah tumbuh pada daerah kering," kata Luhut B. Pandjaitan. (*)
Pewarta: AmirullahEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026