"Ini berarti sampai September 2015, Provinsi Kaltim mengalami inflasi sebesar 3,39 persen dan inflasi `year on year` sebesar 7,33 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur Aden Gultom di Samarinda, Kamis.
Menurut ia, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga pada kelompok pengeluaran yang memiliki andil dominan, seperti kelompok transportasi dan komunikasi.
Kelompok ini mengalami deflasi 0,74 persen, kemudian kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,68 persen.
Sedangkan kelompok kesehatan berinflasi 1,05 persen, kelompok sandang mengalami inflasi 0,62 persen, kelompok makanan jadi berinflasi 0,23 persen, kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,14 persen, dan kelompok perumahan mengalami inflasi 0,09 persen.
Sementara itu, lanjut Aden, andil kelompok komoditas terhadap deflasi yang terbesar adalah kelompok bahan makanan dengan andil 0,14 persen, disusul kelompok transportasi dan komunikasi memiliki 0,12 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran lain memiliki andil positif, seperti kelompok kesehatan memiliki andil 0,05 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memiliki andil 0,04 persen.
Berikutnya kelompok sandang memiliki andil 0,03 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memiliki andil 0,02 persen, dan kelompok pendidikan memiliki andil 0,01 persen.
"Jika dirinci menurut kota, maka pada September 2015 Kota Samarinda berdeflasi 0,06 persen, Kota Balikpapan mengalami deflasi 0,13 persen, dan Kota Tarakan berdeflasi 0,29 persen," tambah Gultom. (*)
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.