Kami siap menyambut dengan karpet merah kepada calon investor yang masuk ke Bontang. Potensi industri manufaktur pengalengan ikan menjadi salah satu pilihan berinvestasi di Provinsi Kalimantan Timur, terutama di Bontang
Bontang, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kota Bontang siap menggelar karpet merah untuk menyambut kehadiran investor pengalengan ikan, seiring dengan melimpahnya produksi ikan dari Selat Makassar yang menjadi wilayah tangkapan bagi nelayan setempat.
"Kami siap menyambut dengan karpet merah kepada calon investor yang masuk ke Bontang. Potensi industri manufaktur pengalengan ikan menjadi salah satu pilihan berinvestasi di Provinsi Kalimantan Timur, terutama di Bontang," kata Wakil Walikota Bontang Agus Haris di Bontang, Rabu.
Kota ini secara agresif membidik pembangunan industri manufaktur pengalengan ikan sebagai motor baru penggerak perekonomian daerah. Langkah strategis ini didukung penuh oleh infrastruktur hukum dan komitmen birokrasi yang siap menyambut investor, baik domestik maupun asing.
Pemerintah Kota Bontang memastikan tidak akan ada sekat birokrasi yang menghambat masuknya modal.
Berdasarkan kajian oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Timur bersama DPMPTSP Kota Bontang, ada empat faktor utama mengapa Bontang menjadi lokasi paling ideal untuk hilirisasi perikanan.
Pertama, keberlanjutan bahan baku, seiring dengan pasokan komoditas laut yang tersedia melimpah sepanjang tahun. Kedua, infrastruktur penunjang memadai, yakni keberadaan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang representatif.
Ketiga, kesesuaian lahan, terutama adanya dukungan tata ruang wilayah yang sudah siap menampung kawasan industri manufaktur. Keempat, regulasi yang berpihak pada investasi, berupa kebijakan daerah dalam menjamin kepastian hukum serta kemudahan usaha.
Sementara Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur, menegaskan bahwa kesiapan daerahnya tidak hanya di atas kertas. Pihaknya berkomitmen penuh untuk mengawal setiap investasi yang masuk dari hulu hingga hilir.
"Kami di DPMPTSP Bontang tidak hanya membuka pintu, tapi juga memastikan kenyamanan berinvestasi. Sektor ketahanan pangan dan perikanan adalah prioritas utama kami,” katanya.
Melalui Perda Nomor 1 Tahun 2017, pihaknya memberikan garansi kepastian hukum, insentif fiskal, dan pemangkasan birokrasi perizinan demi mempercepat hilirisasi perikanan.
Aspian Nur melanjutkan bahwa secara geografis wilayah laut Bontang memang jauh lebih luas dibanding daratannya, dengan total mencapai mencapai 497,57 km².
Data volume produksi perikanan di kota ini pun tergolong sangat masif, yakni perikanan tangkap menembus 20.335,99 ton per tahun dengan melibatkan 3.181 rumah tangga yang bekerja di subsektor perikanan.
“Perikanan budidaya mencapai 4.453,04 ton yang melibatkan 351 rumah tangga pembudidaya. Komoditas unggulan didominasi jenis ikan cakalang, tongkol, dan tuna dengan produksi yang terus meningkat,” katanya.
Berdasarkan studi kelayakan teknis dan finansial untuk rencana pendirian industri pengalengan ikan cakalang, proyek ini tercatat sangat menguntungkan bagi para investor.
Beberapa catatan penting sehingga proyek ini dinyatakan sangat prospektif adalah Nilai NPV (Tahun ke-5): Rp 3.334.343.157, Internal Rate of Return (IRR): Berada di angka tinggi 56,01 persen, Net Benefit/Cost (Net B/C): Sebesar 1,6.
Kemudian Payback Period (PBP): Modal kembali dalam waktu 4 tahun, 4 bulan, dan 9 hari, titik impas (BEP) unit: Sesar 549.653 unit kaleng, titik impas (BEP) rupiah: Tercapai saat menyentuh keuntungan Rp5.496.528.333 per tahun
Menurutnya, dengan langkah agresif dan terukur ini, Pemkot Bontang optimis mampu mentransformasi kekayaan mentah tersebut menjadi produk hilirisasi bernilai tambah tinggi yang siap bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Pewarta: RahmadEditor : M.Ghofar
COPYRIGHT © ANTARA 2026