Target ini mengalami kenaikan sebesar 11,24 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya senilai Rp3,08 triliun. Tentu kami akan terus berupaya untuk mewujudkan target tersebut

Bontang, Kaltim (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Kalimantan Timur optimistis mampu mencapai target investasi Rp3,42 triliun pada 2026, didukung infrastruktur mapan dan kemudahan perizinan melalui sistem online single submission (OSS).

"Target ini mengalami kenaikan sebesar 11,24 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya senilai Rp3,08 triliun. Tentu kami akan terus berupaya untuk mewujudkan target tersebut," kata Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur di Bontang, Selasa.

Meski target yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur lebih tinggi dari rencana awal pihaknya, namun ia mengaku optimistis bakal terwujud, terpancar dari realisasi triwulan I (Januari-Maret) 2026 yang sudah mencatatkan realisasi investasi Rp796,78 miliar.

Ia menyebut bahwa pencapaian ini sudah memenuhi 23,25 persen dari target tahunan, sehingga menjadi sinyal hijau bagi para calon investor yang ingin menanamkan modalnya di Bontang yang memang kondusif.

Komposisi modal pada awal tahun ini masih dipimpin oleh para pemodal dalam negeri, namun minat investor asing tetap terjaga dengan baik, ditopang oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang menyumbang Rp707,31 miliar atau sekitar 88,77 persen.

Disusul oleh sektor penanaman modal asing (PMA) yang mencatatkan angka Rp89,46 miliar atau sebesar 11,23 persen.

"Investasi di Bontang terbagi dalam tiga zona strategis yang memiliki karakteristik unik di masing-masing wilayah, yakni Kecamatan Bontang Utara, Bontang Selatan, dan Kecamatan Bontang Barat," katanya.

Di Bontang Utara yang merupakan jantung industri, menjadi penyumbang terbesar melalui sektor industri kimia dasar dan farmasi, diantaranya oleh Kaltim Methanol Industri yang terus memperkuat produksinya di kawasan tersebut.

Kemudian di Bontang Selatan yang merupakan kawasan urban, difokuskan pada pembangunan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, seiring meningkatnya populasi dan aktivitas ekonomi.

Sedangkan di Bontang Barat yang merupakan pusat perdagangan, sektor jasa dan kuliner maupun restoran mendominasi usaha, diperkuat dengan hadirnya pelaku usaha besar seperti Fast Food Indonesia yang menunjukkan kuatnya daya beli warga.

"Dampak nyata dari derasnya arus investasi ini adalah terciptanya lapangan kerja yang tentunya membantu mengurangi angka pengangguran. Pada triwulan I 2026 saja, aktivitas investasi berhasil menyerap 939 Tenaga Kerja Indonesia (TKI)," kata Aspian Nur.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026